Ratna Sofia

Author
Dua tahun lalu, di bulan ini gue memasukkan lamaran ke Dealoka.
Tahun ini, di bulan ini, nyatanya adalah selebrasi bahwa hampir genap 2 tahun disini.

Bareng mereka "yang itu-itu saja", pun mereka yang silih berganti macam musim penghujan dan kemarau di Indonesia yang sekarang sudah gak tentu datangnya kapan.

Dari anak bawang, sampai tetap anak bawang juga.
Am still dat kid. A kid who is always hungry for new experiences.
My first impression here, just like riding a rollercoaster. Too challenging. Too scary.
Make friends with strangers. Far out of my zone and my previous environment on campus.
But; it's fun.


So what if I had to get off this rollercoaster?
Will I have to try a new game?
Should I re-start everything from the beginning?
Or should I go up again the same vehicle?

--

You know my answer.
Am still dat kid.

Those kids. #IYKWIM



Bahwa ketika film Laskar Pelangi sedang booming, saya adalah orang yang gak berhenti terharu dengan ceritanya. Sosok guru yang tergambar oleh Bu Muslimah, melempar jauh memori saya di sebuah Sekolah Dasar, tempat saya dididik.

Demi Allah, tulus itu nyata adanya. Ketulusan dari guru-guru di SD itu membekas sekali di benak saya. Ketulusan yang bisa saya rasakan sampai ke ulu hati.

SD Negeri 1 Paket Agung

Bukan sekolah ter-unggul di zamannya. Cenderung sekolah biasa saja. Tapi Ayah memilihkan tempat ini untuk saya. Mungkin karena jaraknya yang dekat dengan rumah, atau probabilitas lain yang baru akan saya ketahui di suatu dimensi.

Terbiasa menjadi yang terbaik di kelas, membuat saya tumbuh jadi orang yang tak kenal kalah. Di bilangan masa yang lain, ini menjadi jurang curam buat saya. Akademik, akademik, dan akademik. Saya jadi penghafal tercepat di pelajaran sejarah, menjadi penghitung tercermat di matematika, tapi kuncup di pelajaran Bahasa Bali. Saya juga payah di olahraga. Apalagi senam. Kalau ada dua pelajaran yang jadi momok buat saya ikuti, itu pasti Bahasa Bali dan Penjaskes.

Kelas 1 Bu Wayan, Kelas 2 Bu Suci, Kelas 3 Bu Sri, Kelas 4 Bu Jero, Kelas 5 Bu Swadaya, Kelas 6 Bu Resni.

Saya cuma perlu waktu 10 detik buat mengetikkan nama-nama di atas. Betapa saya mengingat mereka, tanpa bantuan. Guru 6 tahun. Wali kelas saya di setiap jenjangnya.

Murid Teladan

Adalah milestone untuk saya mengetahui betapa ketulusan itu besar sekali, bulat, dan utuh. Mewakili sekolah untuk ajang Murid Teladan, ajang paling bergengsi di level SD. Bertaruh dengan ratusan siswa terbaik dari seluruh penjuru SD di kecamatan.

Sulit bagi saya untuk memutar detail ini. Tapi perjuangan guru SD saya, adalah bukti ketulusan yang betul-betul tulus. Izinkan saya bercerita sedikit tentang mereka.

Adalah Ibu Resni, guru tertua, berperawakan amat kurus, dengan motor Supra hitam tuanya, bolak-balik membonceng saya ke kantor dinas untuk sekedar melengkapi administrasi. Keriput yang membungkus hampir seluruh pipinya, dengan kacamata dan senyum khas, yang bolak-balik menghantarkan saya mempersiapkan segala keperluan. Beliau, melelang sebagian besar waktunya untuk anak didiknya. Ibu Resni, adalah guru terbaik di sepanjang hidup saya. Yang akan terus saya ingat nilai, jasa, dan perjuangannya.

Ibu Yasmari, guru keturunan Belanda, sang pengajar Matematika yang terkenal kiler, namun membuka pintu rumahnya lebar-lebar buat saya. Matematika menjadi bidang terkrusial di ajang itu. Namun, sang guru berkulit amat putih dan mata bulat khas Nonie Belanda ini mengalirkan ilmu menghitung cepat dengan caranya. Tanpa bayaran. Saya rutin ke rumahnya. Pun sebaliknya, Ibu Yasmari, sering sekali bertandang ke rumah kami, dengan sepeda motornya (yang tentu lebih apik dari Bu Resni), untuk menguji kemampuan matematika saya. Sekali lagi, tanpa bayaran.

Kepala Sekolah saya. Yang sosoknya saya kagumi hingga kini. Kata-katanya yang mampu memberikan energi dan volt di hati. Dari kursi nomor satu di depan, saya menggumam tekad saat itu.

Pak Agung, guru Kelas B, yang membimbing saya di bidang kesenian. Bidang kedua yang dilombakan di ajang itu. Beliau meluangkan waktunya hampir setiap hari untuk saya kunjungi rumahnya, dan belajar membuat bunga yang apik. Beliau, juga guru yang sabar mendengarkan lantunan piano saya yang pas-pasan.

Ibu Jero, guru penuh kasih. Yang saya tahu beliau menyayangi saya sepenuh hati. Pak Asmat dan Pak Yasin, yang pertama kali mengenalkan kami akan gugus dan macam-macam rasi bintang di langit malam Bali yang tanpa polusi.

Yang akhirnya kesemua mereka tersenyum, untuk sebuah piala yang berhasil saya bawa. Juga untuk sebuah potret koran terlaris di Bali, berfotokan saya dan Kepala Sekolah dengan latar SD Negeri 1-2 Paket Agung. Sekolah non-unggulan, yang akhirnya mencatatkan diri dengan deret pretasi. Kerja keras yang terbayar oleh guru-guru tertulus, di masanya.


Untuk mereka, guru-guru terhebat, dengan cucur keringat yang hangat, saya berdoa untuk alir pahala yang tak putus untuk mu.

Selamat Hari Guru.
Esok atau lusa, jika masih ada usia, izinkan saya bertamu. Dan untukmu yang telah menutup usia, semoga doa ini bisa melapangkan kubur dan meneranginya, sebagaimana engkau yang menjadi pembuka cahaya bagi kami.


Terimakasih.. Sang Pelita!

Diambil di Replika SD Muhammadiyah Belitong

Aku mencarimu.
Pada kolom explore di laman instagramku.
Berharap ada jejak dari tujuan singgahmu.

Aku mencarimu.
Meski satu-satunya yang kutahu,
Hanya satu rencana tujuanmu.
Itupun aku ragu.
Jadikah kau kesitu?

Aku mencarimu.
Menagih cerita, yang harusnya jadi hutangmu.
Delapan jam sejak saat itu.

Aku mencarimu.
Untuk mengadu.
Punggung jariku yang terjepit pintu,
kini sudah tak kaku.

--

Baiklah Ikram.
Semoga esok lusa kau tahu.
Aku mencarimu.
Pada pantulan sudut Jogja dan Jakarta.
Di antara paduan merah dan kacamata.

x


Saya ingat, gambar ini diambil waktu itu.
Di sebuah bukit, yang darinya kita bisa melihat seisi kota.
Namanya Gunung Banyak. Di daerah Batu, kota Malang.

Dua anak itu, tenang di antara pikuk kami.
Mungkin mereka sedang bercerita segala. Dua sahabat atau mungkin diikat saudara.

Kemudian imaji ini membuatnya dipisah massa.
Hilang kabar, pun alfa sapa-suara.


Desember, 2030.

Di bawah basah langit abu abu,
Kau dimana?
Dilengangnya malam menuju minggu,
Kau dimana?

--

Bertemukah kau dengan sang puas?
Benar senangkah rasa hatimu?
Bertemukah kau dengan sang puas?
Benar senangkah rasa hatimu?

--

Aku.
Dan raut wajahmu, 14 tahun yang lalu.

Sedang rindu.


-------------------------------------------------

Kutipan Lagu Tulus, dalam judul Langit Abu-Abu.
Ini sebuah cerita.
Bahwa sepanjang usia bumi bertemu dengan titik saya.
Selalu ada kata "sebentar"
Menunda yang tidak perlu digesa.
Menjadi pembenaran untuk tidak melakukan segera.

Oh.
Pandai sekali manusia mencari pembenaran.
Sebentar. Nanti. Akan.
Terus menjadi kata pengantar.

Sebentar,
Apa bab ini juga untuk pembenaran?


--

Di pojok Lawson.
20.09.

Makassar

Tahun lalu mungkin saya ga pernah membayangkan untuk mengunjungi Kota Daeng. Selain karena bukan merupakan tujuan wisata pada umumnya, provinsi ini juga terbilang bagian Timur-nya Indonesia. Ditambah lagi, saya ga punya kepentingan pekerjaan disitu. Mau ngapain?

Tapi adalah Dia, Pemlilik skenario tak tertebak. Berkat sebuah iseng ikutan lomba Instagram, saya mengantongi dua tiket gratis ke Makassar. Adalah iPeh yang terpilih menjadi peran figuran (HAHAHA!), alias pendamping waktu itu. Oh ya terimakasih banyak buat Indonesia Flight untuk tiket gratisnya. Maafin kita yang gak mau rugi, jadi pilih penerbangan termahal di jam terbaik, hehehe.

Sebelumnya, ini adalah Budget on Travel 1 orang selama perjalanan :

Tiket Pesawat dan Hotel 
- Jakarta - Makassar :  Rp. 1.378.000 = Rp. 0 (Tiket Gratis)
- Makassar - Jakarta :  Rp. 1.264.000 = Rp. 0 (Tiket Gratis)
- Hotel Losari (dua malam) : Rp. 420.000/2 = Rp. 210.000/orang

Transportasi (kurang lebihnya ya)
- Damri Bandara - Kota = Rp. 30.000
- Taksi selama di Makassar = Rp. 125.000
- Becak, Gojek selama di Makassar = +/ 100.000
- Angkutan ke Pulau XX = Rp.30.000
- Angkot ke Rammang-Rammang PP = Rp. 35.000
- Ojek di Rammang-Rammang PP = Rp.40.000
- Perahu Rammang-Rammang (1 Perahu 200.000) = Rp.100.000

Gaya Hidup
- Kulineran (makan, ngopi, nyemil, icip-icip) = Rp. 400.000
- Oleh-Oleh (baju, kain, tas, makanan, dll) = Rp.300.000

Jadi kalau di total-total, habis sekitar Rp. 1.370.000 untuk saya pribadi. Dengan asumsi tiket pesawat gratis, dan di luar ongkos taksi dari rumah masing-masing ke Bandara Soetta PP.

20 Mei 2016

Berikut itinerary singkatnya :
Berangkat Subuh dari kosan - Pesawat pukul 07.15-10.45 - Bandara Hasanuddin - Damri ke kota Makassar - Sambung taksi ke Losari Hotel (check in) - Wisata Kuliner 1 - Fort Rotterdam - Wisata Kuliner 2 - Pantai Losari - Wisata Kuliner 3 - Balik ke Hotel (bersih-bersih) - Dijemput Ucup - Wisata Kuliner 4 - Pindah Tempat – Wisata Kuliner 5.

Wisata Kuliner? (zoom in zoom out). IYA. Sehari  5 kali makan.Yaitu :
1. Coto Makassar di Coto Nusantara
2. Mie Titi di seberang Pantai Losari
3. Pisang Epe di Las Vegas, Anjungan Losari
4. Palbas Serigala
5. Es pisang Ijo, Kelapa Muda, dll di Kampung Popsa
 

Warm.

Senja di Losari


Dari Pantai Losari kami menikmati suguhan senja yang romantis. Magis. Dan bersahabat kepada semua orang. Hingga berakhir di Kampung Popsa bareng Ucup dan teman-temannya.


21 Mei 2016


Gagal ke Samalona.
Hari kedua lumayan failed dari rencana yang sudah disusun. Awalnya, kami berencana ke Pulau Samalona, yang berdasarkan gambar yang saya lihat sih bagus banget.

Pulau Samalona dari Gambar Instagram orang

Jadilah pagi-pagi kami sudah siap di area Pantai Losari yang menurut informasi adalah tempat penyeberangan untuk ke pulau-pulau.

Saya cuma berdua Ipeh, tadinya kami berekspektasi bahwa kami bisa gabung dengan rombongan lain untuk ke Samalona atau Kodingareng Keke. Tapi nyatanya, untuk menuju pulau tersebut, harus carter satu perahu. Apalah, kami cuma berdua. Menyewa satu perahu berdua, nampak bukan jadi pilihan yang baik waktu itu. Sayang duit juga sih. Karena satu perahunya untuk ke Samalona berkisar di Rp. 500.000. Kalau untuk ke Kodingareng Keke lebih mahal lagi, tambah sekitar 100-300.

Di bawah tugu, membelakangi laut, kami duduk mikirin rencana selanjutnya. Makin terik di Losari, saya dan Ipeh makin kehabisan akal. Hari ini itinnya akan kemana, gimana, dan naik apa.

Berbekal keyword yang itu-itu saja di Google, akhirnya kami bulat menentukan akan kemana hari itu, dan bahkan merombak itin hingga esok harinya. YEAY! Here we go!

Adalah Pulau Lae-Lae di seberang Losari yang akhirnya kami pilih untuk didatangi hari ini. Psst, tapi berangkatnya sore aja, sambil menikmati sunset.

Maka itineraty yang kami susun adalah sebagai berikut :
  1. Kuliner Sop Karebosi dan Iga Bakar
  2. Belanja Oleh-Oleh
  3. Tidur siang di Hotel (iya ini bagian dari itin -_-)
  4. Ke Pelabuhan menuju Pulau Lae-Lae
  5. Menghabiskan sore di Lae-Lae.
  6. Dan ditutup dengan Kuliner-an lagi. 

Berikut adalah beberapa dokumentasi kami di Pulau Lae-Lae :
Selamat Datang,

Memotret sang figuran

Entah keberadaan alat ini untuk apa. Tapi saya rasa, akan menimbun lautan.
Digulung mendung


Setelah seharian main ini-itu, kesana dan kemari, menyadari oleh-oleh juga sudah penuh, akhirnya datanglah rekomendasi dari si Fachril Jeddawi di malam hari. “Besok wajib ke Taman Bunga lo Na, ke Akkarena. Subuh-subuh  udah harus disana, liat sunrise!”, kurang lebih begitu salah satu petuah kak Eril ini.

Dengan semangat 47, saya kasih tau ke Ipeh rencana ini. Bahwa ada satu tambahan yang harus dimasukkan ke list kunjungan di hari ketiga. “Peh, kita harus setel alarm jam 4. Besok ga usah mandi, cuci muka aja, solat Subuh, langsung pesan gojek.”, begitu kurang lebih kata saya.


Minggu, 22 Mei 2016


Pagi-pagi buta ba’da Shubuh, pesanan gojek urung kita lakukan. Karena susah menemukan gojek di Subuh buta, dan masuk angin juga kali ya ke pantai Subuh-Subuh naik motor.  Walhasil, kita lari-lari keluar hotel, cari taksi menuju pantai Akkarena

Boro-boro ada matahari, itu masih gulita. Jadi sesampainya wilayah Akkarena –yang kata Eril spot sunrise itu- terlihatlah pagar dan gerbang yang tertutup.  Taksi gabisa masuk. Jadilah saya dan Ipeh turun disitu, dan melakukan aksi terobos gerbang, alias manjat-manjat dikit.

Sepi…..
Hening……

Saya sama Ipeh mempercepat langkah. Mendekati pantai. Makin dekat. Makin dekat. Ada sinar pantulan di sudut pantai.

Tapi kok….

Bulan

BULAN?
Saya tungguin sampai agak terangan dikit..

Eh ternyata memang bulan... Bukan fajar

Boro-boro lihat matahari terbit. Yang kami lihat adalah kenyataan : bahwa AKKARENA ADALAH SPOT SUNSET. Dan kita datang SUBUH-SUBUH. Menghadap pantai, dan matahari terbitnya dari bukit yang berlawanan, alias ga bakal kelihatan. BYE RIL.

Kami jadi wisatawan pertama yang datang ke tempat ini. IYALAH SUBUH. Hahahaha. Tapi gapapa, ada hikmahnya.

Di Akkarena yang sepi itu, saya menghirup udara yang damai sekali. Desir ombak yang landai, kicau burung, hingga bulan yang terbenam.





Setelah puas dengan Akkarena, naik taksi kembali, tapi kami turun di Anjungan Pantai Losari. Bergabung bersama puluhan ribu warga Makassar yang menyemut di pusat kota itu. Minggu pagi, waktu Car Free Day buat mereka. Mulai dari warga yang senam, sales-sales menjajakan produk, hingga kumpulan komunitas yang meregang Minggu di pagi itu.

Saya dan Ipeh memilih melipir ke KFC,  junkfood andalan semilyar umat.
Oh ya, hotel kami itu bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Pantai Losari! Jadi buat kalian yang mampir ke Makassar, saya ga ragu untuk merekomendasikan Losari Metro Hotel ke kamu semua :) Harganya enak di kantong kok. Cuma 250-an semalamnya.

Beres sarapan dan sampai di Hotel, kami langsung  bersih-bersih dan final packing. Pukul 10.00 kami sudah berencana untuk check-out dan melanjutkan perjalanan selanjutnya; dengan tas dan koper dititip ke receptionist.

Kemana kami?
Ke Raos! Ke Rammang-Rammang, yang adalah karst terbesar kedua di dunia.

Cerita dan foto-fotonya? Nanti aja deh! :))

Demikian kisah perjalanan saya ke Makassar. Saya gabisa terlalu banyak untuk upload foto disini. Karena untuk foto dan nyawanya akan saya unggah di Steller. Ditunggu ya! :))


--

14 Agustus 2016.
Dari Resto Junkfood lainnya, A&W
Pamulang Square

Setelah Bandung, sekarang saya lagi ditugaskan buat 'menjaga' Surabaya untuk Dealoka. Meninggalkan Jakarta dan sekitarnya untuk waktu yang lumayan lama, ternyata butuh adaptasi juga. Gimana engga, nihil teman! Kalau kata anak jaman kini : hu hu hu.

Kota Makan Pahlawan

Kata sejarah, Surabaya ini adalah kotanya para Pahlawan. Walaupun saya sebagai tamu, belum merasakan aura "Pahlawan-nya". Setidaknya, sampai sekarang saya belum melihat ada jejak peninggalan sejarah di jalan-jalannya, pun Tugu Pahlawan yang semacam jadi iconic saja. Waktu saya lewat sana, dan berniat untuk potret-potret, saya bingung sendiri. Sang Tugu terpagar rapi. Jadilah urung niat saya mengabadikan situs sejarah, dan malah asik wisata kuliner. .__.

Anyway! Sabtu di weekend pertama saya habiskan dengan berkunjung ke beberapa tempat, termasuk belanja. Adalah Masjid Cheng-Ho, yang jadi tujuan pertama. Awalnya, saya lihat keberadaan Masjid ini di instagram, dan langsung tertarik! Bangunan yang unik dengan sejarah yang inspiratif saya pikir. Maka, dengan bantuan abang Gojek, saya bisa singgah di Masjid nan agung ini.

Menyentuh langit



Masjid Muhammad Cheng Ho.

Dimana ada laut di situ ada Cheng Ho. Dialah sang Laksamana, bahariawan asal China yang melegenda karena jasa dan pesan yang dibawanya.

Menurut Liputan6.com, Masjid ini punya banyak rahasia. Salah satunya : Meski kecil untuk ukuran masjid, namun ukuran bangunan yang 11x11 ini, diambil dari ukuran Ka’bah saat pertama kali dibangun Ibrahim. Dengan ukuran tersebut, setiap orang yang beribadah di masjid ini bisa meningkatkan level kusyuk dalam solatnya, seperti solatnya Nabi Ibrahim.

Subhanallah ademnya di tempat ini

Pengurus Masjid

Saya menghabiskan waktu cukup lama disini. Adem.

Esok Minggunya berjudul A Day with Renza, si anak Sidoarjo. Jadi kita memutuskan untuk say Hi ke si femes Suramadu. Kepalang sampai Madura, kita akhirnya googling dan cari si femes Bebek Sinjay. Sampai di tempat, bukannya lihat bebek kita malah di hadapin dengan plang gede bertuliskan "Maaf. Sudah HABIS", padahal masih jam 5 sore.

Walhasil, kami pindah ke tetangga, yang kayaknya sih ga terlalu kalah jauh femesnya dibanding si Bebek Sinjay. Buktinya : Jokowi pernah kesini. :""") 

Selfie sama Pak Jokowi. Bodo amat ya? Ya udah :(

Melewati Suramadu (sudut pandang pengendara motor.) Btw maaf gambarnya jelek. Ini dicapture dari video yang saya rekam,

Segitu dulu weekend pertama di Surabaya. Semoga weekend-weekend berikutnya lebih berwarna.

Btw, selamat berpuasa!!! :))
Semoga lancar hingga akhir, dan amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT.


Wassalamualaikum.
Previous PostOlder Posts Home