1 July 2015

Jakarta memang itu-itu saja. Mall, gedung tinggi, macet, gojek, klakson, sampai kopaja-kopaja yang ngebut di jalan protokol. Kota kecil ini jadi tumpuan peluh dari jutaan orang yang mencari peruntungan. Saya, salah satunya.

Sabtu, April 2015.

Saya mengirimkan pesan kepada seorang teman.

“Dimana?”
“Di rumah”
“Hunting yuk”
“Yuk. Dimana?”

Tidak perlu berlama berwacana, selang beberapa menit kami sudah bersiap menuju tempat janjian. Stasiun Kota.

Ya adalah saya dan Umil, yang punya prinsip, “ketemu aja dulu, soal kemana mikirnya pas di kereta aja” – sambil browsing.

Dan benar, tujuan kami adalah Batavia. Pelabuhan Sunda Kelapa, yang lekat sekali di benak saya dengan pelajaran sejarah semasa SD.


Itinerary:

1. Naik KRL apa saja, turunnya di Stasiun Kota. Dari sana, naik angkot 15 tujuan Angke atau bisa juga naik Kopami. (ini bekal tanya-tanya dengan pedagang asongan, atau siapapun yang terlihat mengerti). Kalau sudah naik angkot, jangan lupa bilang “Sunda Kelapa, Bang”. Cukup bayar 4.000 setelah itu.
2. Setibanya di Pelabuhan, kami seperti ada di kawasan wisata. Ada gerbang masuk yang mewajibkan kamu membayar tiket. Rp. 5000, satu orangnya.
3. Kalau belum sholat, mampirlah ke Masjid Sunda Kelapa. Setahuku, tempat ini juga punya historical tertentu.
4. Saatnya mengelilingi Pelabuhan. Disini tempat yang asik untuk mengabadikan moment.

5. Kalau mau sensasi lebih, cobalah naik sampan nelayan. Kamu cukup bayar sekitar 40ribu untuk satu perahu.
Maka inilah beberapa keping foto yang saya lampirkan :


Sudut Kiri dari sisi masuk

Sudut Kanan dari sisi pintu masuk

Memotret
Memulai perjalanan, dan sejepret kamera
Ini saat kami turun dari sampan nelayan. Tampak pemandangan yang sesungguhnya di sudut Jakarta
Mendongak pada yang 'besar'
Di tengah lautan. Muka panik. Kami sama sekali gak menggunakan safety jacket atau sejenisnya..

Kiri bangunan super megah akan dibangun. Kanan, kapal-kapal yang kini menjadi 'rumah'

Say "Hi"
Buat mereka, pinisi adalah kerajaannya..
Tempat hidup..
Pasar Ikan!

Apa yang kami lakukan selanjutnya? Mau tau? Nanti ya! :P

Bersambung


Gue selalu takjub sama rencana Tuhan. Sama janji-janji Tuhan, yang datangnya melebihi kecepatan cahaya. Pikuk pada kebesaran pintu-Nya, Yang Mendatangkan, Yang Membukakan, Yang Memaafkan.

Tuhan bilang, bersedekahlah kamu, maka lakukan saja dengan ringan. Tak perlu diberat-beratkan. Tak perlu ditimbang-timbangkan.
Sedekah sama sekali gak memiskinkan. Dia mengayakan. Prinsip seperti ini cuma terjadi pada hitungan Tuhan. Bagian mana yang harus didustakan?

Kalau Tuhan bilang, berbuat baiklah, maka berbuatlah yang baik. Maka gue akan ada di deretan terdepan yang percaya bahwa kebaikan akan datang berkali-kali lipat lebih baik kepada lo.

Kalau Tuhan memanggil 5 waktu dalam sehari, tinggalkan sejenak gadget dan tumpukan kertas itu, datangi Dia. Ada sejuta kebaikan disana. Ada segumpal pertanggungjawaban yang kelak akan menagih, saat hilang fana.

Tuts-tuts ini ga akan terketik apapun tanpa sesuatu yang mendahuluinya.
Begitu pula pada yang terjadi hari ini. Pada hari-hari sebelum ini.  

Alhamdulillah. :))

16 June 2015




Ih, si Bambang jalan hidupnya lurus amat. Udah pinter, kerjaan mapan, tajir lagi.
Upil kenapa multitalented gitu ya, daa aku mah apa
Ih enak ya Roro, lulus-lulus udah dinikahin eksmud
Pontang-panting udah, doa udah, tapi gak dapat-dapat. Ya, se-unfair itu

--
Ada yang setiap bertemu, bercerita terus-menerus soal kekurangan dalam hidupnya,
Ada yang berkisah tentang drama berlebih..

Yang sering terlupa,
Ada telinga-telinga yang terpaksa terbiasa mendengar ..

Yang sering terlupa,
Curhat, beda sama ngeluh

Yang sering terlupa,
Karang yang kokoh bahkan bias oleh air yang terus-menerus menghantam.

Mungkin juga begitu dengan telinga dan segenap syaraf. Tapi Maha Suci Allah yang menggenapkan. Semoga dalam perjalanan mengokohkan telinga, kita digenapi dengan kemampuan bersyukur. Sambil selalu mengingat,

“Bahwa kita gak pernah perlu iri pada rezeki orang lain. Karena kita gak pernah tahu apa yang tlah diambil darinya..”

Total Pageviews

Blog Archive

Ratna Sofia. Powered by Blogger.

Google +

Blog Followers