3 February 2015

Hai.

Apa kabar?
Baik? Eh, apa, sibuk?
Ehm.

Sama seperti pilihan untuk sejenak hilang,
Maka hari ini saya memilih pulang

Sama seperti ketika memilih pergi
Maka hari ini pilihan jatuh untuk datang kembali

Meski dalam perjalanan, semua perhitungan tlah terkalkulasi
Meski dalam setiap jengkal menuju rumah, ada hal yang saya sadari
Sebuah kemungkinan untuk pulang ke tempat yang tak lagi diakrabi
Tak sama, seperti yang dulu saya tinggali.

--

Omong-omong, beberapa waktu lalu, saya sempat menghabiskan malam bersama sebuah buku dari Raditya Dika. Judulnya Koala Kumal. Radit nampak renyah memainkan komedi yang katanya ingin ia buat dari hati. Tapi buat saya, pemilihan judul Radit dan bab pamungkas Koala Kumal adalah hal paling cerdas yang dia buat untuk bukunya sendiri.



Koala Kumal.
Diceritakan, seekor koala di Australia, bertransmigrasi dari hutan tempat tinggalnya. Selang beberapa bulan kemudian, dia kembali lagi ke hutan itu. Tapi ternyata, selama dia pergi, hutan yang pernah menjadi rumahnya ditebang, diratakan dengan tanah oleh para penebang liar. Si Koala kebingungan, kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. Koala terdiam, duduk sendirian. Memandangi sesuatu yang dulu sangat diakrabinya, dan sekarang tidak lagi dikenalinya.

---

Saya dan kamu, mungkin pernah menjadi rumah untuk satu sama lain. Sampai suatu waktu, kita punya teman baru, kesibukan baru, tanggung jawab baru, hingga sejenak saling merenggangkan. Saya menuju perjalanan baru, kamupun begitu. Lalu waktu, membuat datangnya rindu, atau sekedar ketaksengajaan dalam temu.

Kita bertemu kita. Dalam diorama yang berbeda. Ya, kita saling menemui kita yang tak sama.

Sejurus, ada simpul senyum, atau isak di hati, saling memandang untuk sesuatu yang dulu begitu diakrabi, namun kini tak lagi dikenali. Sayangnya, sesuatu itu adalah saya, juga kamu.

---

Itulah yang ‘tlah kukalkulasi
Seberubah apapun kamu,
Bagi saya, kamu tetap pernah menjadi rumah.

Untuk itu, saya kembali.
Meski tau, semua tak sama lagi.


--

Ehm. Keren gak? Anak-mudamu sudah kembali, kan?


Lantai 1.
Sebuah kamar di pusat kota.

02/02/15, 9:31 PM.



20 July 2014

Gue kira tadinya ini cuma ada di cerita Sun Go Kong. Yang kalau Go Kong protes, bisa langsung nemuin raja, dan perdana menteri di kahyangan di atas awan. 

Gue kira tadinya ini cuma ada di buku dongeng hadiah Dancow. Ada keluarga petani yang berkebun di atas langit.

--

Berdiri di puncak Bukit Sikunir di pagi hari, menatap lamat matahari yang sepenggalah naik dari balik Gunung Sindoro. Awan putih bergumpal jauh di bawah tempat kami berdiri. Membentuk samudera. Bergumpal-gumpal, kesana kemari ditiup angin.


Mengalihkan pandangan, terpampar syahdu sebuah desa yang kami lewati tadi. Sembungan namanya. Dialah desa tertinggi di tanah Jawa. Dialah negeri di atas awan yang sesungguhnya. Negeri yang tumbuh ratusan penduduk baik hati, yang mau kami ganggui di waktu Subuh menumpang wudhu. Oh. Di atas awan mereka berkebun, di atas awan mereka mendirikan sekolah, di atas awan pula mereka menemui Tuhannya lewat sujud.


--

Waktu itu tanggal 5 Februari. Dini hari jam dua pagi, dari sebuah rumah di Magelang, kita udah duduk manis di mobil dan bersiap menuju Dieng. Berbekal Google Maps, dan nasi bungkus buatan ibu Ikhsan. Dieng letaknya di Wonosobo, sekitar dua jam dari posisi Magelang. Jadi kira-kiranya jam 4 pagi udah bisa nanjak. Tapi rencana tinggal harapan. Baru sampai gerbang Dieng jam 4 lebih, dan masih ada 10 kilometer lagi untuk sampai di trek nanjaknya. Ditambah hal yang paling ditakuti akhirnya kejadian. Hujan.

Perjalanan ini sepenuhnya patuh pada Google Maps, dan bekal cerita pengalaman orang-orang di Google. Kalau udah sampai masjid anu berhenti, kalau udah sampai plang ini bisa cari guide, kalau udah ketemu gerbang anu, batas mobil boleh jalan, dan seterusnya. Berhubung waktu Subuh, berhentilah kita di musholla. Uniknya, mushollanya tanpa tempat wudhu apalagi toilet. Menumpanglah kami di rumah warga.

Singkat cerita, sampailah kita di gerbang Sikunir. Begitu sampai di titik pendakian, beberapa dari kita langsung lari-larian berharap bisa mengejar sedikit golden sunrise. Tanpa pemanasan. Yang harusnya haram dilakuin sama orang manapun yang mau mendaki. Apalagi yang belum pernah sama sekali. Hasilnya bisa ditebak. 1/7 perjalanan sudah habis nafas. Kita bahkan kalah cepat sama matahari, yang sepertinya udah terbit. Dieng yang katanya dingin bisa capai suhu minus, ga berasa dingin lagi.

That moment, di tengah pendakian, ada adegan yang film banget. Salah satu dari kita ga sanggup melanjutkan perjalanan. Doi tersengal, sedikit lagi muntah. Kemudian katanya kurang lebih begini, “gue ga kuat lagi, ga kuat, serius ga kuat” .. “kalian aja yang lanjutin dakinya, gue gapapa ditinggal disini aja..”, mukanya merah, nafasnya ga beraturan. Gue sebenarnya agak panik, duh ini gak bakal kayak Arial di 5cm kan.. Arial di 5cm padahal dikenal paling olahragawan, paling atletis, paling sehat, tapi di tengah hampir gabisa lanjutin jalan. Nah ini sama. Yang ngomong atlet juga... Tapi kemudian dijawab ga kalah film sama seorang lainnya, “engga ka nins.. kita bakal daki sama-sama.. ga bakal ada yang ninggalin..”

Hahahaha. Drama banget kayak Pilpres :')

--

Kemudian sesaat setelah itu..
Kami berdiri di puncak Bukit Sikunir di pagi hari, menatap lamat matahari yang sepenggalah naik dari balik Gunung Sindoro. Awan putih bergumpal jauh di bawah tempat kami berdiri. Membentuk samudera. Bergumpal-gumpal, kesana kemari ditiup angin.

Walau sekilas di mataku, gumpalan awan itu perlahan membentuk wajahmu. Sahabat terbaik yang menghembus nafas terakhirnya di balik Gunung itu.
"Robby Rifal Hamdani. Ini tahun kedua kita tak berpuka puasa bersama".
Sejurus kemudian aku memahami. Kehidupan di atas awan itu benar ada, kawan.

-- Tamat.

Dari atas Sikunir, nampak desa di atas awan itu. Sembungan namanya.
Gue yang motret nih :'))))
Foto siluet pertama. Mendapati matahari yang ga lagi bisa dibilang golden sunrise -_-
Orang mana coba yang kepikiran bawa balon tiup ke gunung :))
Di balik gunung Sindoro :)
We're on the SKY!
Bahagia akhirnya bisa sampai disini tanpa guide :')
Itu yang pada duduk adalah dua aktor yang dimaksud di cerita di atas :p
Iya, di balik gunung itu... Semoga bahagia dan tenang disana yah, Fal :'D

Sarapan di tepi Danau Cebong. Danau ini persis di bawah Sikunir. Jadi setelah turun dari puncak, kita mampir kesini dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke objek Dieng berikutnya,

See? Negeri itu benar ada. Mereka berkebun di atas awan :)
Memandang telaga dari kejauhan :D
Konon, ini tempat foto ter-mainstream di Telaga Warna...
Menuju .. salah satu objek setelah Telaga Warna

Background belakang sebenarnya adalah hijaunya telaga
Akhir kata, terimakasih Sikunir, Telaga Warna, dan semua kenangan di Dieng. Semoga kita bisa ketemu lagi yaa. 

Sekian. Wassalamualaikum wr.wb.

27 June 2014

Grawida. 25 Juni 2014.

Thank you for making my day, my great friends! :D
Benarlah kata si Pulan. Membuat orang bahagia itu sederhana. Cukup datang di hari bahagianya, atau beri dia sesuatu yang bisa dikenang dengan manis.

Terimakasih buat orang-orang di empat tahun terakhir :D
Dan, (ga percaya bisa bilang ini) terimakasih yah, IPB :D. Kampus yang sama sekali ga masuk daftar impian di empat-lima tahun lalu. Hehehe.

Taukah kalian, gue bahkan telah menyiapkan jawaban, andai nanti pas interview kerja, atau waktu lagi di stage ngisi acara, ada yang nanya, “Ratna Sofia, apa yang paling Anda ingat dari IPB?” atau, “Dapat apa sih emang mba dari IPB?”
Ah, Bapak bisa aja nih nanyanya. :> Ada dua milestone terbaik saya Pak, yang ga akan saya dapat kalau ngga masuk IPB. Dialah Asrama TPB dan BEM FEM. :)))

Dua titik kulminasi. Sebuah pembuka dan penutup yang manis.

“Lalu apa penengahnya?”
“Di tengah-tengahnya adalah kuliah. Pendidikan, yang jadi amanah Bapak dan Ibu saya. Pendidikan, yang dimanapun universitas saya : akan mendapat pemahaman yang kurang lebih sama, buku dari pengarang yang sama, serta fasilitas yang sedikit banyak juga akan sama”

...

-- Tapi tidak dengan milestone. Semua orang punya tapaknnya sendiri. Tak terbentur jalan yang telah dibentuk orang kebanyakan.

Tamat.
Rempong cinn

------

Berikut ucapan dan cuplikan di 25 Juni kemarin :D



Keluarga.
My every things. Buat 22 tahun tanpa minus apapun. Buat 22 tahun penuh kelimpahan dan syukur. 
Kurang Bang Ib..
Every things.

Manajemen 47.  
Teman belajar dalam kelas. Dua setengah tahun.



Kominfo. Teman Sepermainan.
Thanks buat kealay-an yang.. (okelah) menyenangkan. Walaupun aku juga lumayan malu kakaak, pas jalan ke ATM Centre diliatin orang-orang gara-gara iring-iringan kalian pada pake topeng itu, sambil bawa-bawa nama Ratna Sofia, sambil pake payung. Rest in Peace, banget? Hah, tapi apapun namanya, mau Kominfo mau Teman Sepermainan, me love you for no reason. Lengkap terus nih ye :p


BEM FEM, and Friends
Tempat belajar dan menemukan teman-teman terbaik! Dua tahun betah disini :D


7 Corp, and Friends :)
Teman berbagi ruang 3x3 meter satu tahun. Dan 3 tahun selanjutnya udah kayak keluargaDitambah Umil dan Chella :D  Makasih yaaah. Kuenya, bonekanya, bunganya, gelasnya, coklatnya, semuanyaa ;)


Spesial buat Umil, makasih postingannya yang ini :D


Terimakasih juga buat :
  1.  PPSDM 2013 (sayang ga sempat foto)
  2.  BEM Progresif, Prioritas, anak Mene, temen Asrama yang menyempatkan datang :D
  3.  'Teman dan Bukan Teman', buat cecoklatan, bunga dan bonekanya :D
  4.  Yang ga datang, tapi hadiah dan kadonya tetep ngalir ke kosan :p 

Dan maaf buat :
  1. Yang sengaja datang tapi tak bertemu
  2. Yang udah ketemu, ngasih kado, tapi malah ga sempat cipika cipiki dan foto
  3. Yang tak tersebut..


----


Makasih yah :D



12 June 2014

Namanya Ujung Genteng. Tempatnya jauuuuh dari Bogor. Kalau ada yang bilang ke tempat ini perlu waktu sekitar 5-6 jam, maka saya dan teman-teman pernah menjangkaunya sampai nyaris 12 jam :’)

Source : motoyuk.com. Ini kalau pantai lagi tenang.
Kata Geocities.com, nama Ujung Genteng sebetulnya berasal dari Ujung Gunting, dimana posisi Ujung Genteng berada di ujung salah satu sudut pulau di Jawa Barat yg berbentuk gunting. Nah, bagian ujung gunting atas berada di Ujung Kulon; dan bagian ujung gunting bawah berada di Ujung Genteng. Hap! Maka dari Ujung Gunting jadilah Ujung Genteng. Dari sepenglihatan kami, sebagian besar penduduknya adalah nelayan dan petani, ada juga yang beralih menjadi penyadap Nira dan dijadikan gula kelapa.

Penghujung tahun lalu, untuk sebuah alasan ‘survei’, kami mengunjungi si Ujung Genteng. Ada Eril, Willy, Desta, Eka, Ijul, dan Echa yang masuk jadi tim survei. (Niat survei atau jalan-jalan sebenarnya beda tipis). Malam hari di 19 Desember 2013, sekitar jam 10 malam kami berangkat. Beruntung ada si Jenal yang masuk rombongan, doi diajak karena penduduk asli daerah Ujung Genteng :’) Jadi sekaligus penunjuk jalan, sekaligus yang ditebengin rumahnya buat istirahat.

Menuju Lokasi Pantai
Sekitar jam 4 Subuh, kami sampai di rumah Jenal. Disana udah menyambut ibunya yang ramah, berikut teh manis hangat. Badan? Berasa rontok. Biar Eril aja yang cerita gimana tantangan menuju tempat ini :’) 

Setelah istirahat, sholat, istirahat, sarapan, barulah kita berangkat ke lokasi pantainya. Aksesnya susah, kasihan mobil, dan rasanya mustahil buat ngajak rombongan bus besar kesini. Kita cari pantai yang view-nya bagus, cari penginapan sekitar situ, keluar lagi, cari lagi, dan seterusnya. Mulai dari Villa Pak Ujang yang ada burung hantunya, sampai Pondok Hexa yang menurut kami paling layak, mewah, dan persis depan pesisir. Kisah dan penampakan mistis dari bos Echa juga ga ketinggalan mewarnai setiap habis kunjungan ke villa atau penginapan :’)

Selebihnya, inilah sebagian foto-foto yang berhasil diabadikaaan. Mulai dari bersantai di pesisir, sampai Eril yang sepanjang susur pantai sibuk cari batu-batu yang berbentuk huruf F, a, c, h, r, i, L, u, sampai bentuk hati. -_-

Mayoritas pasir disini berkarang, harus menyusuri pantai tertentu buat dapat pasir halusnya.

Diskusi. "Ini jadi gimana, nih?" ; "Plan selanjutnya gimana?". "Duh, pahit-pahitnya Anyer lagi deh".

Susur pantai sambil menunggu para lelaki Sholat Jum'at.

View dari seberang Pondok Hexa. Pondoknya bukan yang coklat itu kok, bukan. Itu warung.

Ini dia hasil perjuangan Eril, Yang akhirnya cuma membuahkan F love L. Pppftt.
Terik, tapi airnya enak. Adem.

Bareng Desta.
See? Ini ceritanya Prioritas yang ditulis di atas pasir. Ijul yang bikin. Eh apa Willy?




Oh iya, Ujung Genteng juga dikenal dengan penangkaran penyu-nya dan pelepasan tukik di malam hari. Sayangnya kami ga sempat mengunjungi tempat ini. Selain karena mahal (banget), mobil juga katanya ga bisa masuk. Akses jalannya terlalu susah buat mobil biasa.

Source : http://www.paradisotour.com. Penampakan tukik yang siap dilepas.




Dengan mengucap hamdallah, perjalanan ini pun berakhir. Berangkat sekitar jam 1 siang, dan tiba di Bogor sekitar jam 1 pagi :'). Wassalamualaikum..

Full team.

Google +

Blog Followers

Google+ Followers