Ratna Sofia

Author
Gue ingat, ada yang pernah bilang : waktu jaman mahasiswa kalau pengen liburan masalahnya cuman satu : “ada waktu, ga ada duit”. Pas kerja, “ada duit, gak ada waktu”.
--

Piknik itu penting. Dia udah seharusnya ada di deretan to do list para urban. Gak punya waktu? Alesan. Paling juga gak bisa bagi waktu. :))

Manfaat Piknik. Bisa bikin ketawa lepas waktu selfie.

Kali ini gue mau bercerita sedikit soal perjalanan ke Lampung. Mulai ya. :))

--

Waktu itu Jumat, 22 Mei. Tepat malam harinya pukul 22.00 adalah jadwal keberangkatan kami. Beruntung, open trip jaman sekarang bersahabat banget buat para urban yang kerjanya dari Senin ketemu Jumat. Mereka selalu udah arrange waktu weekend biar kita gak perlu repot minta izin kantor dan membuat pembenaran dalam berwacana. Ya, Tuhan bersama orang-orang yang pengen liburan tapi ga punya cuti.

Kami berkumpul di Stasiun Tanah Abang. Ada sekitar 60 orangan yang ikut di open trip bareng si agen gue ini. Dari tim gue sendiri, ada Kanids, Zul, Ka Ai, Pacarnya Ka Ai, dan temen pacarnya kak Ai. Belakangan ternyata namanya Bang Adam (gak pakai Husein) dan Bang Syakir (gak pake a).

Dengan kereta Ekonomi AC, tepat pukul 22.30 rombongan ini meluncur menuju Pelabuhan Merak dan siap melewati 3 jam perjalanan. Sekitar jam 2 pagi, kita udah masuk di Kapal Ferry. Tidur barang sejam dua jam. Bangun-bangun, sholat Subuh, dan kemudian menikmati ini…..

Sekitar pukul 06.00, dari atas Kapal Ferry

Foto di bawah ini diambil oleh pasangan ganteng, literally.

Masih dari atas kapal Ferry

Ga lama kemudian sampailah kami di Pelabuhan Bakaheuni. Disana sudah ada beberapa angkot carteran yang siap mengantar kami. Sejam lebih kita disupirin sama supir super mabuk sebelum akhirnya sampai di Dermaga Canti. Iya. Nyeberang lagi. 

Selebihnya.. ini rekam jejak kami :

08.00 - 10.30 : Menuju Pulau Sebuku Kecil (Snorkling)
11.00 - 11.30 : Menuju Pulau sibesi
11.30 - 15.00 : Istirahat, check in penginapan, makan siang
15.00 - 17.00 : Menuju Pulau Umang-umang (Snorkling santai, Hopping island, santai di pantai)
17.00 - 18.00 : Hunting Sunset
18.00 - 19.30 : Kembali Ke penginapan, mandi dan istirahat
19.30 - 21.00 : Makan malam BBQ

Dan inilah penampakan foto-fotonya :

Udah sampai kita Kak Jul!
Belum juga merapat, beberapa diantara kita langsung nyebur.
Kalau kata anak jaman sekarang, Vitamin Sea!

Bersama Kak Jul
Yang ini sore, begitu sampai di Pulau Umang-Umang
Belitong. (KW)

Geng BEM
Ceritanya foto ala-ala
Kak Nids
Kekinian. Kak Nids mah gitu orangnya..

Malam hari, selepas BBQ. Lagi baca Filosofi Kopi dengan suara ombak sebagai backsound-nya. Yang ini candid beneran oleh Kak Jul.

--
DAY 3 : Summit Anak Krakatau!

Klimaks dari perjalanan ini memang di hari terakhir. Pagi-pagi buta dari penginapan, kita sudah bersiap untuk lagi-lagi menyeberang menuju tempat pendakian. Adalah sunrise yang indah yang jadi cerita selama perjalanan pagi ini. Beberapa dari kami naik ke atas kapal, kemudian melepas sejauh-jauh mata bisa memandang. Yang terlihat, hanya biru lautan dengan semburan jingga di atasnya. Dari atas kapal juga, puncak Anak Krakatau terlihat dengan indahnya. Puncak, yang di jamannya pernah mengguncang dunia. Konon, guncangan itu juga yang memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Memotret sunrise

Sunrise-nya ini
Berlatar Anak Krakatau

We are a proud Indonesian

Hap! Sampailah kami di Pulau Anak Krakatau, dan memulai ritual pendakian.

Sempat-sempatin aja dulu senyum....
.. sebelum nanjak tanpa pepohonan. (Pict dari Kang Wira)
One fine morning from the half top

Jadi gini..
Kak Ai dan kekasih. Huft

Karena Puncak itu cuma bonus..
--

Selepas mendaki, tau aktifitasnya kemana lagi?
Ke Lagoon Cabe! Snorkling lagi -_- Gue yang notabene gak bisa renang dan udah lama banget gak snorklingan (terakhir 2013 kayaknya), ditambah masih ingat trauma masa kecil, ditambah gelombang yang lagi guede, akhirnya cuma bertahan gak lebih dari 5 menit liat alam bawah lautnya Lagoon Cabe, yang….. subhanallah :’)

Sebaik-baik yang terekam kamera, sesungguhnya ga pernah lebih bagus dari yang tertangkap mata.. (Pict by kang Wira)

Di Lagoon Cabe. Udah kayak cabe-cabean belum?
Menutup perjalanan. Wassalamualaikum wr.wb

--

Pada akhirnya, semua perjalanan yang kita mulai akan selalu menemui ujungnya. Sepanjang perjalanan pulang, terngiang-ngiang dua hari yang kami habiskan bersama. Ya, tentang “sesuatu” yang kami bawa pulang. 

Terimakasih, Anak Krakatau. Terimakasih gugusan Pulau Sebuku. Terimakasih Lagoon Cabe. Dan, terimakasih... Lampung.

Sesungguhnya, Menemui alam, mengajarkan saya buat selalu bersyukur. Menjalani perjalanan, membuat saya mengerti tentang arti pulang.

--

Tamat.
Halo,
Surel ini tertuju untuk mereka yang pernah mengenal atau begitu akrab dengan kata “dashboard"
Apa kabar? :))

Juga untuk kamu, yang pernah menikmati membaca tulisan di laman seseorang
Apa kabar juga? :))

Nah. Semoga tak keberatan mengingat-ingat ‘jaman dulu-nya kita’ ya.

Mari mengingat rutinitas kita di bilangan dua atau tiga tahun sebelum ini. Massa dimana selalu ada kamu, saya, atau orang-orang di sekitar kita yang bersuara lewat tuts-tuts keyboard. Berbagi cerita, ber-opini, atau sekedar melempar lelucon.

Kita punya kebiasaan ‘blog walking’ saat ingin berselancar mengunjungi tulisan siapapun, tentang apapun, tanpa mengenal batas jarak atau sekat pendidikan.

Kita lalu saling membaca. Kadang menikmati rima. Kadang terbahak. Kadang tersenyum kecut. Tapi dari semuanya, kita tahu, bahwa ada pelajaran yang selalu bisa diambil dari cerita orang.

Tapi waktu pula yang memainkan cerita
Masing-masing kita menua
Masing-masing kita memiliki kesibukan baru
Teman-teman baru
Kehidupan baru
Atau,
Media baru

Laman-laman itu kemudian berubah sepi
Menunggu dia sang pemilik cerita dan mimpi,
Untuk sekedar berbagi,
Kembali

--

Maka lewat ini,
Semoga kembali ingatan, bahwa kita pernah merasai :
Saat menulis, semata-mata karena ingin menulis
Saat menulis, semata-mata karena ada yang ingin dibagi
Tak peduli jumlah komentar, likes, love, frowned --
Atau bahkan,
Tak peduli terbaca atau tidaknya..

Karena kita,
Sama-sama tahu,
Setiap tulisan akan menemui pembacanya sendiri

--

Di akhir baris,
Kusampaikan salam dan segenap rindu


Laman-lamanmu.

--
Jakarta memang itu-itu saja. Mall, gedung tinggi, macet, gojek, klakson, sampai kopaja-kopaja yang ngebut di jalan protokol. Kota kecil ini jadi tumpuan peluh dari jutaan orang yang mencari peruntungan. Saya, salah satunya.

Sabtu, April 2015.

Saya mengirimkan pesan kepada seorang teman.


“Sedang dimana?” – 09. 58.
“Hunting?”. – 09.58
Centang 2 abu. Centang 2 Biru.

Detik yang sama :
“Di rumah” – 09.58
“Yuk” – 09.58.


Tidak perlu berlama berwacana, selang beberapa menit kami sudah bersiap menuju tempat janjian. Stasiun Kota.

Ya adalah saya dan Umil, yang punya prinsip, “ketemu aja dulu, soal kemana mikirnya pas di kereta aja” – sambil browsing.

Dan benar, tujuan kami adalah Batavia. Pelabuhan Sunda Kelapa, yang lekat sekali di benak saya dengan pelajaran sejarah semasa SD.


Itinerary:

1. Naik KRL apa saja, turunnya di Stasiun Kota. Dari sana, naik angkot 15 tujuan Angke atau bisa juga naik Kopami. (ini bekal tanya-tanya dengan pedagang asongan, atau siapapun yang terlihat mengerti). Kalau sudah naik angkot, jangan lupa bilang “Sunda Kelapa, Bang”. Cukup bayar 4.000 setelah itu.
2. Setibanya di Pelabuhan, kami seperti ada di kawasan wisata. Ada gerbang masuk yang mewajibkan kamu membayar tiket. Rp. 5000, satu orangnya.
3. Kalau belum sholat, mampirlah ke Masjid Sunda Kelapa. Setahuku, tempat ini juga punya historical tertentu.
4. Saatnya mengelilingi Pelabuhan. Disini tempat yang asik untuk mengabadikan moment.


5. Kalau mau sensasi lebih, cobalah naik sampan nelayan. Kamu cukup bayar sekitar 40ribu untuk satu perahu.
Maka inilah beberapa keping foto yang saya lampirkan :

Sudut Kiri dari sisi masuk
Sudut Kanan dari sisi pintu masuk

Mulai menaiki sampan, dan, memotret
Umil dan Pak Tua pengayuh sampan

Mendongak pada yang 'besar'
Di tengah lautan. Ombak kencang. Muka panik.
Baru tersadar, perjalanan ini tanpa safety jacket atau sejenisnya

Kiri bangunan super megah akan dibangun. Kanan, kapal-kapal yang kini menjadi 'rumah'

Say "Hi"
Buat mereka, pinisi adalah kerajaannya..
Sisi lain tempat hidup bagi sebagian warga Ibukota
Ini saat kami turun dari sampan nelayan. Tampak pemandangan yang sesungguhnya di sudut Jakarta
Pasar Ikan!

Apa yang kami temukan selanjutnya?

Bersambung


Previous PostOlder Posts Home