5 July 2015

Hi,
Ini untuk kamu yang pernah mengenal atau begitu akrab dengan “dashboard” :)
Juga untuk kamu, yang pernah menikmati membaca tulisan di laman seseorang
Semoga tak keberatan mengingat-ingat ‘jaman dulu-nya kita’ ya.

Sebelum lebih jauh, semoga kamu masih ingat rutinitas kita di bilangan dua atau tiga tahun sebelum ini. Massa dimana selalu ada kamu, aku, atau orang-orang di sekitar kita yang bersuara lewat tuts-tuts keyboard. Berbagi cerita, ber-opini, atau sekedar melempar lelucon.

Kita punya kebiasaan ‘blog walking’ saat ingin berselancar mengunjungi tulisan siapapun, tentang apapun, tanpa mengenal batas jarak atau sekat pendidikan.

Kita lalu saling membaca. Kadang menikmati rima. Kadang terbahak. Kadang tersenyum kecut. Tapi dari semuanya, kita tahu, bahwa ada pelajaran yang selalu bisa diambil dari cerita orang.

Tapi waktu pula yang memainkan cerita
Masing-masing kita menua
Masing-masing kita memiliki kesibukan baru
Teman-teman baru
Kehidupan baru
Atau,
Media baru

Laman-laman itu kemudian berubah sepi
Menunggu dia sang pemilik cerita dan mimpi,
Untuk sekedar berbagi,
Kembali

--

Maka lewat ini,
Semoga kembali ingatan, bahwa kita pernah merasai :
Saat menulis, semata-mata karena ingin menulis
Saat menulis, semata-mata karena ada yang ingin dibagi
Tak peduli jumlah komentar, likes, love, frowned --
Atau bahkan,
Tak peduli terbaca atau tidaknya..

Karena kita,
Sama-sama tahu,
Setiap tulisan akan menemui pembacanya sendiri

--

Di akhir baris,
Kusampaikan salam dan segenap rindu


Laman-lamanmu.

--


1 July 2015

Jakarta memang itu-itu saja. Mall, gedung tinggi, macet, gojek, klakson, sampai kopaja-kopaja yang ngebut di jalan protokol. Kota kecil ini jadi tumpuan peluh dari jutaan orang yang mencari peruntungan. Saya, salah satunya.

Sabtu, April 2015.

Saya mengirimkan pesan kepada seorang teman.


“Sedang dimana?” – 09. 58.
“Hunting?”. – 09.58
Centang 2 abu. Centang 2 Biru.

Detik yang sama :
“Di rumah” – 09.58
“Yuk” – 09.58.


Tidak perlu berlama berwacana, selang beberapa menit kami sudah bersiap menuju tempat janjian. Stasiun Kota.

Ya adalah saya dan Umil, yang punya prinsip, “ketemu aja dulu, soal kemana mikirnya pas di kereta aja” – sambil browsing.

Dan benar, tujuan kami adalah Batavia. Pelabuhan Sunda Kelapa, yang lekat sekali di benak saya dengan pelajaran sejarah semasa SD.


Itinerary:

1. Naik KRL apa saja, turunnya di Stasiun Kota. Dari sana, naik angkot 15 tujuan Angke atau bisa juga naik Kopami. (ini bekal tanya-tanya dengan pedagang asongan, atau siapapun yang terlihat mengerti). Kalau sudah naik angkot, jangan lupa bilang “Sunda Kelapa, Bang”. Cukup bayar 4.000 setelah itu.
2. Setibanya di Pelabuhan, kami seperti ada di kawasan wisata. Ada gerbang masuk yang mewajibkan kamu membayar tiket. Rp. 5000, satu orangnya.
3. Kalau belum sholat, mampirlah ke Masjid Sunda Kelapa. Setahuku, tempat ini juga punya historical tertentu.
4. Saatnya mengelilingi Pelabuhan. Disini tempat yang asik untuk mengabadikan moment.


5. Kalau mau sensasi lebih, cobalah naik sampan nelayan. Kamu cukup bayar sekitar 40ribu untuk satu perahu.
Maka inilah beberapa keping foto yang saya lampirkan :

Sudut Kiri dari sisi masuk
Sudut Kanan dari sisi pintu masuk

Mulai menaiki sampan, dan, memotret
Umil dan Pak Tua pengayuh sampan

Mendongak pada yang 'besar'
Di tengah lautan. Ombak kencang. Muka panik.
Baru tersadar, perjalanan ini tanpa safety jacket atau sejenisnya

Kiri bangunan super megah akan dibangun. Kanan, kapal-kapal yang kini menjadi 'rumah'

Say "Hi"
Buat mereka, pinisi adalah kerajaannya..
Sisi lain tempat hidup bagi sebagian warga Ibukota
Ini saat kami turun dari sampan nelayan. Tampak pemandangan yang sesungguhnya di sudut Jakarta
Pasar Ikan!

Apa yang kami temukan selanjutnya?

Bersambung


Gue selalu takjub sama rencana Tuhan. Sama janji-janji Tuhan, yang datangnya melebihi kecepatan cahaya. Pikuk pada kebesaran pintu-Nya, Yang Mendatangkan, Yang Membukakan, Yang Memaafkan.

Tuhan bilang, bersedekahlah kamu, maka lakukan saja dengan ringan. Tak perlu diberat-beratkan. Tak perlu ditimbang-timbangkan.
Sedekah sama sekali gak memiskinkan. Dia mengayakan. Prinsip seperti ini cuma terjadi pada hitungan Tuhan. Bagian mana yang harus didustakan?

Kalau Tuhan bilang, berbuat baiklah, maka berbuatlah yang baik. Maka gue akan ada di deretan terdepan yang percaya bahwa kebaikan akan datang berkali-kali lipat lebih baik kepada lo.

Kalau Tuhan memanggil 5 waktu dalam sehari, tinggalkan sejenak gadget dan tumpukan kertas itu, datangi Dia. Ada sejuta kebaikan disana. Ada segumpal pertanggungjawaban yang kelak akan menagih, saat hilang fana.

Tuts-tuts ini ga akan terketik apapun tanpa sesuatu yang mendahuluinya.
Begitu pula pada yang terjadi hari ini. Pada hari-hari sebelum ini.  

Alhamdulillah. :))

Total Pageviews

Blog Archive

Ratna Sofia. Powered by Blogger.

Pages

Google +

Blog Followers