Ratna Sofia

Author
Setelah Bandung, sekarang saya lagi ditugaskan buat 'menjaga' Surabaya untuk Dealoka. Meninggalkan Jakarta dan sekitarnya untuk waktu yang lumayan lama, ternyata butuh adaptasi juga. Gimana engga, nihil teman! Kalau kata anak jaman kini : hu hu hu.

Kota Makan Pahlawan

Kata sejarah, Surabaya ini adalah kotanya para Pahlawan. Walaupun saya sebagai tamu, belum merasakan aura "Pahlawan-nya". Setidaknya, sampai sekarang saya belum melihat ada jejak peninggalan sejarah di jalan-jalannya, pun Tugu Pahlawan yang semacam jadi iconic saja. Waktu saya lewat sana, dan berniat untuk potret-potret, saya bingung sendiri. Sang Tugu terpagar rapi. Jadilah urung niat saya mengabadikan situs sejarah, dan malah asik wisata kuliner. .__.

Anyway! Sabtu di weekend pertama saya habiskan dengan berkunjung ke beberapa tempat, termasuk belanja. Adalah Masjid Cheng-Ho, yang jadi tujuan pertama. Awalnya, saya lihat keberadaan Masjid ini di instagram, dan langsung tertarik! Bangunan yang unik dengan sejarah yang inspiratif saya pikir. Maka, dengan bantuan abang Gojek, saya bisa singgah di Masjid nan agung ini.

Menyentuh langit



Masjid Muhammad Cheng Ho.

Dimana ada laut di situ ada Cheng Ho. Dialah sang Laksamana, bahariawan asal China yang melegenda karena jasa dan pesan yang dibawanya.

Menurut Liputan6.com, Masjid ini punya banyak rahasia. Salah satunya : Meski kecil untuk ukuran masjid, namun ukuran bangunan yang 11x11 ini, diambil dari ukuran Ka’bah saat pertama kali dibangun Ibrahim. Dengan ukuran tersebut, setiap orang yang beribadah di masjid ini bisa meningkatkan level kusyuk dalam solatnya, seperti solatnya Nabi Ibrahim.

Subhanallah ademnya di tempat ini

Pengurus Masjid

Saya menghabiskan waktu cukup lama disini. Adem.

Esok Minggunya berjudul A Day with Renza, si anak Sidoarjo. Jadi kita memutuskan untuk say Hi ke si femes Suramadu. Kepalang sampai Madura, kita akhirnya googling dan cari si femes Bebek Sinjay. Sampai di tempat, bukannya lihat bebek kita malah di hadapin dengan plang gede bertuliskan "Maaf. Sudah HABIS", padahal masih jam 5 sore.

Walhasil, kami pindah ke tetangga, yang kayaknya sih ga terlalu kalah jauh femesnya dibanding si Bebek Sinjay. Buktinya : Jokowi pernah kesini. :""") 

Selfie sama Pak Jokowi. Bodo amat ya? Ya udah :(

Melewati Suramadu (sudut pandang pengendara motor.) Btw maaf gambarnya jelek. Ini dicapture dari video yang saya rekam,

Segitu dulu weekend pertama di Surabaya. Semoga weekend-weekend berikutnya lebih berwarna.

Btw, selamat berpuasa!!! :))
Semoga lancar hingga akhir, dan amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT.


Wassalamualaikum.
Buat kami, menonton AADC bukan lagi soal ekspektasi menanti kejutan-kejutan di film.
Buat kami, AADC adalah legenda. Adalah ruang untuk bernostalgia. Adalah waktu untuk membuat jeda. Untuk menanti Cinta, juga Rangga. Apa kabarnya?


Pertempuran Antara Ojek Online dan Asisten Virtual

Waktu itu 28 April 2016; pemutaran perdana AADC 2 di layar bioskop.

Aplikasi Gojek kemudian menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang bisa saya dan si teman lakukan. Kami sadar, adalah mustahil untuk membeli tiket on the spot saat jam pulang kerja. Jadilah, tepat pukul 12.30, saat seharusnya seluruh bioskop baru mulai beroperasi, jemari saya lincah memainkan tuts di aplikasi andalan sejuta umat Jakarta.

Go mart – XXI Metropole – 4 seat – “Pilih Seat yang belakang ya Mas.” – Order.

Beberapa menit kemudian, telepon dari abang Ojek. “Mbak, tiket AADC-nya habis sampai show terakhir. Adanya Civil War, mau?”

Saya telan ludah.

YHAAKALI BANG. MASIH JAM 12, SATU BIOSKOP SUDAH HABIS? SATU BIOSKOP KAN ADA BEBERAPA STUDIO. SATU STUDIO JUGA ADA BEBERAPA KALI JAM TAYANG. YANG BENAR SAJA.

Tentu, itu kata saya dalam hati.

Alhasil, setelah cek jadwal via aplikasi CGV Blitz dan Cinema 21, kami coba peruntungan lagi pesan Gojek. Semoga dengan pesan di Blitz yang notabene harganya lebih mahal, probabilitas untuk dapat tiketnya lebih besar.

Betul saja, si abang Gojek di pesanan yang berbeda telepon saya. “Kak, show jam 7 sudah penuh semua. Adanya jam 7.30, tinggal dua seat, nomor 1 paling depan, paling pojok kanan, Kak”.

Hening.

“Yaudah Bang, ambil aja”, kata saya akhirnya.

Belakangan, rasa penasaran saya akan hebatnya makhluk Jakarta pesan tiket pakai apa akhirnya terjawab sudah. Rupanya mereka sama saja seperti kami. Menyerahkan nasib pada abang-abang Gojek, dan jasa asisten virtual YesBoss. Bedanya, mereka ternyata jauh lebih gercep. Pesan Gojek dari jam 11, pesan YesBoss dari kemarin harinya. Jadilah bioskop sepenuhnya jadi pusat antrean mereka yang berjaket hijau. Pertempuran antara ojek online yang masing-masing mewakili ribuan kepala di Jakarta.


Charming in It’s Simplicity


Meski sangat antusias untuk film ini,  order dari siang hari, dan mengiyakan untuk duduk di shaf terdepan, paling pojok pula; saya datang tanpa ekspektasi. Pilihan terbaik yang pernah saya ambil hahaha. Hasilnya? Saya bahagia sepanjang film!

AADC 2, menyuguhkan sesuatu yang membuat kami tersenyum, tertawa, terharu, dan terus begitu berulang-ulang di setiap partnya.

Cinta was too beautiful! Too charming. Too cute!

Yaampun DIAN SASTRO!

Geng Cinta yang diwakili Milly, Karmen, dan Maura, saya jatuh cinta! Kalian lucu sekali. Apalagi Milly. Guyonan yang renyah, berikut haru yang buncah. Pertemanan yang tulus kalau kata Rangga.

Dan, sebagai pelengkap dari semuanya adalah puisi-puisi indah dari Rangga. Lengkap dengan pesona dan kharismatiknya.

YAAMPUN NICHO!!

Pada setiap scene-nya, saya merasakan sinematografi yang indah. Penyelipan produk sponsor yang sangat-sangat natural. Cerita yang logis di setiap detailnya. Pun, penyampaian pesan tersirat dari sang pembuat karya.

Scene Rangga yang menyempatkan kembali ke rent car, adalah salah satu hal terdetail dalam hal logika. Meski tanpa percakapan, saya menangkap pesan bahwa dia  extend mobil sampai keesokan harinya. Mengingat itu sudah dini hari, dan mereka masih akan melakukan perjalanan lainnya.

Begitu pula scene saat Rangga bilang, “saya ikut Pemilu loh”. “Oh ya? Kamu pilih siapa?”.
Pertanyaan Cinta dijawab dengan senyum oleh Rangga, sambil bilang “Sepertinya pilihan kita sama. Gimana? Kecewa ngga?”, senyumnya lagi.

Eaaa. Selamat mbak Mira Lesmana. Pesan Anda sampai!

HAHAHAHAHA.

Pict source : liputan6.com

All in all, AADC 2 adalah sederhana yang mewah.
Charming, in its simplicity.

--

Jadi, untuk kamu yang mengharap drama berlebih, film ini bukan rekomendasi yang baik.
Untuk kamu yang menanti kejutan dan cerita tak tertebak, beralihlah ke film lain. Bukan film legenda yang sudah dinanti 14 tahun untuk berakhir tragis (lagi).
Untuk kamu dengan tingkat imajinasi yang tinggi, Hollywood tetap jawabannya. Ada banyak sekali tokoh imajiner disana. Mulai dari manusia yang bisa jadi laba-laba, penghancur kota, sampai penebak kiamat.

:))))))

--

Anyway, saya janji akan nonton untuk kedua kalinya.

Di posisi tempat duduk yang jauh lebih layak, tanpa perlu dongak hampir 100 derajat ke atas dan ke sebelah kiri. HAHAHAHA.


Last and least, terimakasih buat Miles Film. Karya kalian selalu ajaib. :)
Lepas satu Shubuh pertama di dua puluh empat, tulisan ini mulai saya buat.
Hanya satu jam tersisa sebelum harus bersiap untuk sebuah perjalanan.


Ehm.
Hari ini, tepat sudah dua puluh empat, yang saya genapi.
Terimakasih untuk sebagai-baik : keluarga, teman, rezeki, juga iman, yang dititipi.


Dua puluh empat.
Setiap hari saya menua satu hari. Pun hari ini. Tidak ada yang khusus, kecuali sebuah selebrasi. Sebuah pengingat diri.

Juga seperti hari ini.
Saya memilih menghadiahi diri dengan sebuah tiket perjalanan. Di dalamnya tertulis : CGK-LOP, 22 April 2016. Bukan dua atau tujuh tiket. Tapi hanya satu. Akan ada solo traveling di dua puluh empat, sebagai sebuah pengingat.

Seperti kali ke- dua puluh empat sebelum ini, saya dianugerahi satu tiket perjalanan.
Diizinkan menjalani masa pra-hidup sembilan bulan, sebelum akhirnya saya dipercaya untuk memulai perjalanan seorang diri. Tanpa teman, tanpa bekal. Namun menjanjikan kehidupan.

Saya kecil, dan saya yang dua puluh empat, akan kembali memulai perjalanan ini dengan satu tiket.
Saya kecil, dan saya yang dua puluh empat, akan bertemu dan menjumpai teman, ketika sampai di tujuan.

Bukannya hidup selalu seperti ini?
Berjalan untuk bertemu.

--

Pada akhirnya,
Tunggu saya di situ.
Untuk dua puluh empat, yang menjanjikan sesuatu.


Lantai 2. Kosan Benhil Raya.
4/22/2016 - 5 : 53 AM.

--
Updated 7:48 AM @ Soetta Airport

Satu bonus hari ini:
Sajak yang saya simpan di sebuah catatan.

Saya tak meminta siapapun untuk mengerti
Tanpa pergi dan berhenti, orang-orang seperti saya akan mati.

Kamu bisa mengecap mewahnya berdiam diri.
Sementara saya, harus terus mencari.

Sekali lagi, ini bukan untuk dimengerti.
Namun bisakah ia lepas dari semua interupsi?


Boleh cari uang.
Asal jangan sampai tumbang,
Apalagi habis waktu luang.


Saya pernah menuliskan kalimat di atas sebagai caption di salah satu post Instagram. Circle teman sepermainan saya yang isinya lebih banyak teman semasa kuliah, atau sesekali dengan teman masa SMA, rekan kerja, atau opentrip mate, membuat saya sedikit banyak menaruh perhatian untuk mereka. Saya ga lagi peres;  tapi saya sayang kalian kok. Untuk itu, tolong lah jangan kebanyakan minum kafein, begadang, atau lembur kerja terus ya. :)

Kalau kamu addict banget sama yang namanya kopi, cobalah ganti ke hot chocolate. Suka ke Starbucks? Beli ice chocolate-nya deh sesekali, enak kok! Kalau kamu tim Indomaret yang doyan beli cemilan dan minuman, cobain deh ganti Bearbrand atau susu ultra, segernya ga kalah luar biasa.

Tim Indomaret

Anak Kafe

Iya, saya masuk golongan anak kafe dan tim Indomaret yang selalu pesan cokelat atau susu kalau lagi nongkrong. Buat saya sih cool-cool aja minum susu, ah, hahaha.

Soal begadang, memang kadang timbul secara alamiah. Entah karena ngerjain tugas, atau sebuah sindrom bernama insomnia. Tapi belakangan, begadang lebih sering karena addict-nya kita pada sebuah benda bernama gadget. Main games sampai pagi, mencetin tombol likes/love/frowned di status teman, dan semua hal lain yang menyatakan keberadaan kita di situs jejaring sosial. Semoga saya, kamu, dan circle kita, bisa lebih bijak lagi untuk mengontrol ini. Semoga saya, kamu, dan circle kita, bisa punya ruang lebih untuk berinteraksi secara langsung. Bisa main air bareng, bisa minum cokelat tanpa terdistract sama handphone, atau bisa hunting foto dengan ragam ekspresi bareng. Yang saya pahami, kita berhak bahagia secara nyata. Bukan sekedar tulisan “wkwkwkwkw” dengan ekspresi datar. Hehehehe :))))

Terakhir, perkara lembur kerja. Untuk yang satu ini, saya ga berhak memberi barang satu atau dua saran. Kecuali sebuah pesan; jaga kesehatan. Gaji kamu yang tinggi, gak akan berarti apa-apa kalau akhirnya dia harus lari. Berpindah ke bahan-bahan kimia yang mencekoki tubuh kita untuk mencoba pulih.

--

Sok tahu saya, kita kerja bukan semata-mata buat upah.

Ayah, ibu, sama abang saya, ga nanya gaji saya berapa. Yang mereka mau tau, saya enak makannya, saya cukup istirahatnya, saya bisa jalan-jalan, saya ga lupa sholat sama ngajinya. “Yang penting Na senang”, kata mereka.


Jadi, cukupkanlah menjadikan gaji sebagai bahan olok-olok, candaan, atau instrumen dalam @meninggikan orang lain. Ada kok, guru honorer di sekolah Ibu yang gajinya 300.000 perbulan, sudah berkeluarga, dan mereka sepenglihatan kami bahagia-bahagia saja. Sebaliknya, ada juga kok, dia yang bergaji dua digit di depan setiap bulannya, tapi tampak selalu serba kurang. :)


Cheers!

Salah satu foto saya di Line, pada 11/10/15.

Nah! Beberapa waktu lalu, saya dapat kesempatan untuk menjadi narasumber di salah satu jaringan After College terbesar di Indonesia, yaitu Student Job ID. Mereka mempunyai satu program talkshow interaktif, yang disebut #IDStalk. Kebetulan waktu itu temanya Start Career in Marketing.

Berikut cuplikan interaktif via twitter yang saya copy dari blog ID Student Job.

Their website : http://studentjob.co.id/


Hallo kak @ratnasofia, apa kabar? Sekarang lg sibuk apa aja? #IDStalk
Halo @IDStudentjob, kabar baik nih. Sedikit cemas, banyak rindunya. Asik. Hahaha. Kesibukannya, lagi sibuk ngerjain hal yang saya suka. Yang satu, marketing. Sisanya jalan-jalan. :))


Ceritain dong gimana akhirnya bisa gabung di @DealokaID? #IDStalk
Pertama kali gabung di Dealoka, sejujurnya banyak cobaan sama ragunya. Adalah semacam menentang arus. Buat anak PTN saya yg notabene lulusannya bekerja untuk BUMN, Multinational Company (MNC), atau perbankan. Nah, Startup? Siapa yang lirik? Beruntung, saat itu saya tau apa yang saya gak mau. Untuk itu saya pilih yang berseberangan. Ya, Startup. Terdengar LEGIT dan menantang.


Apa sih yang membuat kak @ratnasofia memilih bekerja sebagai marketing? #IDStalk
Memilih marketing, karena memang suka sama dunia beginian. Dunia yang menuntut kita buat menjauh dari kata monoton. Dan sejalan juga dengan program studi yang saya ambil saat kuliah. Kan, sebaik-baik ilmu, adalah yg dimanfaatkan :p


Gimana rasanya kerja di start up seperti @DealokaID? #IDStalk
Rasanya nano-nano. Manis, asam, pahit, tapi bikin ketagihan. Tantangan banyak, tapi peluangnya jauh lebih banyak. Di @DealokaID, saya banyak banget dapat kesempatan buat belajar. Dari A sampai Z. Dari Direktur, sampai kucing. Dari pagi sampai pagi lagi. Terpenting, disini semuanya FUN. COLOURFUL. Dan jauh dari kesan kantoran yang boring. Disini saya dapat pengalaman dan pelajaran, yang saya yakin, gak akan saya dapat kalau dulunya saya mengikuti arus kebanyakan.


Apa aja yang menjadi tanggung jawab kak @ratnasofia sebagai marketing di @DealokaID? #IDStalk
Tanggung jawab marketing lumayan banyak, mulai dari bikin event, akuisisi brand besar, sampai urus hal perintilan. Nah termasuk di dalamnya controlling sosmed, ads/iklan yang beredar buat publik, sampai brand awareness.


Suka dan duka apa saja yang pernah dialami saat bekerja sebagai marketing ? #IDStalk
Hmm suka duka ya. Lebih banyak sukanya sih kalau kerja disini. Kerja jadi berasa ga kerja. Karena memang suka. Dukanya paling suka kecapean pasca event. Selebihnya, saya menganggap kerjaan saya adalah hobi yang dibayar.


Apa yang menjadi rahasia kerja kak Ratna sehingga mampu dipromosikan sebagai marketing Manager Dealoka? #IDStalk
Wah, hehehehe. Ga ada rahasia dan nihil tips sebetulnya. Yang saya yakini, sesuatu yang dikerjain dari hati sampainya akan ke hati. Ga perlu ribet sama posisi, cukup jaga kepercayaan yang dikasih, apapun bentuknya. Selebihnya, jangan lupa piknik :D


Apa saja persamaan dan perbedaan yang dirasakan setelah di promosikan sebagai marketing manager? #IDStalk
Sebetulnya ga terlalu berbeda. Paling kalau sekarang jadi punya lebih banyak ruang buat berkreatifitas lebih. Selebihnya, dulu dan sekarang sama-sama menyenangkan. Dulu belajarnya sendiri,sekarang udah banyak temennya :)


Terakhir, apa tips atau pesan khusus dari kak Ratna untuk anak muda yang ingin memulai karir di dunia marketing? #IDStalk
Jangan takut salah, jangan takut mencoba, dan jangan takut terlihat berbeda dari arus kebanyakan. END.


---

Itu tadi review hasil interaktif bareng Student Job.

Setelah sesi tanya dari si admin, ternyata lumayan banyak juga yang nanya-nanya. Saya mendadak artist wkwk. Followers nambah banyak euy. *skip

Anyway, I thank to Student Job for having me! Saya banyak belajar!


Cheersss!


----

Lampiran :
Kapanlagi sekali tweet bisa dapat impression 2700-an wkwk.



Pada Bumi,
Matahari adalah cahaya yang dirindukan
Menyinari penjuru, meminjamkan kehidupan

Padamu,
Aku seperti datang terlambat
Menyadari saat semua sesuatu sudah lewat

Pada Bumi,
Matahari ingin dikejar
Meski butuh lebih dari 300 hari untuk satu garis edar

Padamu,
Aku berpura menghindar
Mengabai hadir, pun menolak tuk berpendar

Pada Bumi,
Matahari melihat Bulan yang menawarkan kilauan
Menjaja kehangatan, juga kecantikan di kala kelam

Padamu,
Kulihat kikis kagum itu, berpindah pada pelangi di angkasa
Dia tampak memberimu warna, juga rona

Pada Bumi,
Matahari merutuk diri
Guna apa cahaya, jika ada bintang lain yang lebih benderang bagi Bumi

Padamu,
Ku gumam sesak dalam hati
Kata itu, bahkan belum pernah kudengar meski satu kali


Namun pada akhirnya...

Pada senja,
Matahari memilih tidur dan tenggelam di ufuk bumi

Padanya,
Aku mengikhlas, dan bergerak senti demi senti

Pada bumi, 
Padamu, 
Pada senja, 
Padanya,

Izinkan kami,
Mundur teratur..




Senja di ufuk Panorama

--

Tangerang Selatan
26/3/16, pukul 00.15
Bangkok sebetulnya adalah destinasi bonus.

Tujuan utama kami adalah Phuket. Awalnya, dengar nama Phuket aja saya udah ngeri duluan. Ngeri soal budget, ngeri gimana disananya, ngeri juga soal teman perjalanan. Maklum, saya lumayan asing dengar pulau ini disinggahi sama teman-teman saya yang hobi keluar negeri. 

Setelah searching sedikit, nama Phuket secepat kilat jadi destinasi impian di awal 2016 kemarin. Tadinya, ada sekitar enam orang teman yang katanya mau diajak jalan-jalan keluar. Tapi biasa, berakhir wacana. Tanggal 1 Januari, saya menetapkan hati buat menulis Phuket di daftar destinasi 2016. Tanggal 5 Januari, saya udah dapat dua teman yang memastikan diri mau ikut. Enggan berwacana, kita buat grup whatsapp, dan langsung punya tiket di tangan. Tiga lembar tiket yang bertuliskan : keberangkatan 28 Januari, kepulangan 1 Februari 2016.

Dadakan? Bodo. Yang penting jadi berangkat. Minim waktu pesiapan, tapi maxi kita manfaatkan. Nah sebelum menunggu tanggal keberangkatan, saya akan berbaik hati share budget persiapan untuk perjalanan ini, yang sudah kami lengkapi semuanya di kurun waktu 1 minggu sebelum berangkat :

  • Flight Jakarta – Bangkok : 747.800 (Thai Lion Air) 08.20/13.35
  • Flight Bangkok – Phuket :  430.600 (Nok Air) 17.35/18.50
  • Flight Phuket – Jakarta : 890.000 (Tiger Air) 10.40/08.10
  • Hostel Vimarn – Bangkok : 163.000
  • Hotel Sunshine Patong – Phuket : (475.000/3) = 159.000
  • Hotel The Yim Siam – Phuket : (435.000/3) = 145.000
  • Hostel Kiwi Backapcker – Singapore : 175.000
Total tiket pesawat dan hotel : Rp. 2.710.000

---

28 Februari 2016.

Sekitar pukul 06.40, saya, Afi, dan Desta, sudah berkumpul dengan anteng di Bandara Soekarno Hatta. Iya pesawat kami keberangkat jam 8.20 pagi. Karena niat awal adalah ala-ala backpacker, maka mesti punya jatah bagasi, kami tak mengambilnya. Hanya menggendong satu tas ransel dan 1 tas jinjing. ((Berangkatnya sih gitu, gak tau aja pulangnya lebih heboh dari ibu-ibu Tanah Abang hahaha))

// Drama 1 //
Setelah lolos imigrasi clearance, kita bertiga tergopoh menuju boarding room yang ternyata kepagian. Baru buka 15 menit lagi katanya. Tanpa komando,  kami urung masuk kesitu dan balik kanan cari tempat duduk di luar. Begitu akan duduk, si Afi tiba-tiba panik. 

“EH. Tas gue mana?” “Yang mana fi?”, “Itu yang kecil, isinya dompet, handphone sama paspor”.
“Aduh ceroboh ba—Eh bentar, HP gue mana?!!”, - saya ikutan panik.

Jadilah saya sama Afi panik berjamaah. Desta kita suruh jaga barang dulu. Sementara itu kami berdua lari-lari kecil nyamperin mas-mas penjaga pintu scanning barang. 

“Mas, mas, ada tas dan handphone ketinggalan gak?”. Pertanyaan yang cuma dijawab dengan senyum sambil nunjuk ke kotak warna biru tempat tas dan handphone kami berada.

---

Itu masih di Jakarta, kawan-kawan. Drama udah dimulai aja. Kebayang kan 5 hari berikutnya? Mungkin kita udah bisa bikin sinetron.

Selebihnya, drama-drama lain ga akan dikupas disini demi menjaga nama baik kami bertiga :)))

Maskapai kita adalah Lion Air waktu itu. Transit sejam-dua jam di Singapore, kami sempatkan berfoto barang dua-tiga cekrek, di Bandara yang katanya dinobatkan sebagai bandara terbaik dunia itu. Memang make sense sih. Semuanya serba steril, canggih, dan nyaman, sampai akhirnya kami melanjutkan penerbangan dengan Thai Lion Air. Sejauh ini, dari puluhan kali history penerbangan saya, ini adalah yang termulus. Mulai dari take off sampai landed-nya, mulus abis. Pelayanan dan interiornya juga sebelas dua belas dengan Garuda Indonesia. Ohya, sepanjang perjalanan saya punya adik baru. Namanya, Ming, 4 tahun. Anaknya ganteng banget, pintar, dan imut. Kami main mobil-mobilan, game ipad, dia minta dipangku, dan ditutup dengan selfie bareng. Ngasuh si Ming ini berbuah dengan saya akan ditraktir kopi sama ibunya. Tapi saya tolak sih hehehe, kan ceritanya suka rela gitu.

---

Mendarat di bandara Don Mueang Bangkok, kami langsung menuju keluar untuk mencari bis menuju penginapan. Belum juga keluar, eh kita melipir ke sebuah toko di Bandara dengan plang besar yang kurang lebih artinya : “Jual Sim Card Happy Tourism, Internetan Sepuasnya”. Harga satu simcardnya ratusan ribu, saya lupa berapa tepatnya. Tapi dasar backpacker gadungan, kami bertiga, tanpa tedeng aling-aling, semuanya beli itu simcard. Padahal, kita sama-sama sadar di Thailand cuma 3 hari, dan hotel ada wifi semua. Padahal, kalaupun mau beli, satu juga cukup, yang lain tinggal tethering. Padahal, kita juga sama-sama tau, kalau beli simcard di 7-Eleven yang tersebar di negara ini, harganya bisa sepertiga dari harga bandara dengan kuota secukupnya. Yhaaaaaaaa.

Langsung pakai buat google map. Ciye gituu
---

Selanjutnya, perjalanan kami dari Bandara ke penginapan, cukup dengan naik bus Damri A2, turun di Mochit, sambung BTS menuju Halte BTS Phaya Thai.


Kalau di Jakarta, kita menyebutnya Damri rasa Kopaja
BTS dari Mochit ke Phaya Thai

Dari Phaya Thai, inggal jalan kaki, sampai Vimarn Hostel deh. Ah, soal kayak gini, kita serahkan sepenuhnya ke Desta. Doi udah macam jelang ujian, sebelum berangkat udah pelajari bukunya dan menghafal nama-nama BTS disini. Dia tau harus naik apa, turun dimana. Hahaha, terimakasih ibu!

Nah, ini Vimarn Hostel! Lebih dari yang kita bayangkan! Tempatnya super asik. Minimalis, keren, dan kekinian. Mulai dari pelayanan staff-nya, cemilannya, kamarnya, sampai urusan toilet, saya kasih review 5/5 untuk hostel ini di Trip Advisor dan Traveloka.

Lobi Hostel Vmarn. Highly recommended.

Setelah check in, taruh barang, dan sholat jama Dzuhur + Ashar, kita langsung bergegas menyusuri kota Bangkok! Karena lokasinya strategis, kita cukup berjalan kaki untuk menyinggahi tempat-tempat yang wajib dikunjungi disini, seperti pusat belanja Platinum, Siam, dll. Saya merekam banyaaaaaaaak banget video. Tapi lain kesempatan aja di share-nya, kalau youtube channel saya udah ada. Hahaha.

Ini adalah Platinum tampak luar. Tampak dalamnya, mirip ITC. Jadi ga usah dilampirin fotonya ya.

Nah di Platinum ini, ibaratnya surga belanja. Semacam ITC kalau di Jakarta. Makan pertama kami di foodcourt disini. Ga sulit buat cari makanan halal, karena mereka sudah besar-besar melabeli tokonya yang menyediakan menu halal dengan ibu-ibu berkerudung.

Kalau kamu mampir kesini, jangan sia-siakan kesempatan buat buang-buang receh disini ya! Karena tempat lain belum tentu bisa semurah dan selengkap disini.

Setelah lumayan puas belanja, jajan, dan jalan, kita bergegas kembali mencari BTS terdekat dan melanjutkan perjalanan malam ke.... Asiatique! Katanya sih, ini objek kunjungan wajib buat para pelancong disini. Menuju Asiatique, kami naik boat atau kapal yang lumayan gede, tapi rame banget, sesak oleh turis. Naiknya gratis! Turunnya juga gratis.


Rame kan?

Kalau kata saya sih, menyederhanakan Asiatique ya semacam tempat nongkrong, ada satu dua permainan ala dufan, tempat jajan, dan tempat belanja oleh-oleh. Semacam pasar malam versi mevvah.

Berikut dokumentasinya :

Pasar Malam versi mevvah

Capturing moment
Di bawah 'Dinasti' Mekong

Di Asiatique, kita jalan sampai kaki ga berasa kaki. Belanja sampai terlihat lebih rempong dari ibu-ibu Tanah Abang. Yang paling penting, disini saya bisa bisa menikmati setiap sudutnya, setiap dentuman musik tradisional, setiap keahlian pembeli dalam menawar barang, setiap bahasa yang terdengar berbeda, dan untuk malam yang saat itu cerah benderang karena 'matahari' buatan. :)

Pulang-pulang, kaki udah pegel kayak apaan tau. Kami menyempatkan diri mampir ke 7-Eleven sebelah hostel, buat beli cemil-cemilan dikit. Saya? Ya jajan ini dong :

Heaven on earth : Milo ice cream.

 --

29 JANUARI 2016

Pagi-pagi, saya, Desta, dan Afi, udah packing lagi. Jadwal kami hari ini : check out hostel sambil titip tas, pergi ke kuil, balik lagi ke hostel mengambil tas, dan terbang ke Phuket. Semacam padat berisi. Sebelum cabut, kita sarapan dulu di sini. Adanya susu, roti, gandum, dan snack. Saya? Beli nasi aja deh di 7-Eleven sebelah. :’)

Dari kiri ke kanan : makanan saya ; Afi, Desta

Perjalanan dimulai dengan naik BTS Phaya Thai, bayarnya 42 baht 1 orang. BTS mengantarkan kami kembali ke sungai Chao Phraya, tempat kemarin nyeberang ke Asiatique. Naik boat lagi, 80 baht PP, menuju Wat Arun. Cerita dan legenda tentang tempat ini, di googling aja ya kak. Ratnanya udah ngantuk.

Salah satu spot di Wat Arun

Setelah Wat Arun, lanjut Wat Pho. Kuil Budha tidur.

Sesungguhnya membutuhkan keahlian khusus buat mendapatkan spot dengan Buddha sebagai backgroundnya..
Khusyu.

Lanjut yang terakhir, adalah Grand Palace.

Demi Allah, panasnya masya Allah. Entah udah berapa belas kilo total perjalanan kaki kita di 24 jam terakhir. Puncaknya yang abis dari Grand Palace, ga kuat panas dan jalan, kita pilih tuktuk. Sebetulnya, karena perkara dikejar waktu banget. Hampir pasrah ketinggalan pesawat.

Karena gak ada foto dalam Tuktuk, saya screenshot dari Videonya aja deh.

Ajaibnya, meski watir ketinggalan pesawat, turun dari Tuktuk bukannya kita bergegas nyeberang ke halte BTS, malah ngadem dulu, beli jajanan di pinggiran kawasan Wat Arun. Tapi asli, enak banget! Coconut Thailand yang terkenal itu, ternyata memang seenak itu.

Seafood super enakkkk!!

The femes : Coconut Thai


Jadi gini rasanya minum kelapa muda Thailand di Thailand..

---

// Drama ke-N dan ke-N+1 //

Sesampainya di Hostel, kita tergesa-gesa macam orang ketinggalan kereta. Dan nasib buruk melanda Afi kembali. Setelah malamnya sempat menghilangkan kunci kamar, tapi akhirnya ditemukan sama mba-mba penjaga, hari pas check out Afi mengulangi hal yang sama. Kunci kamar punya Afi hilang. Mba penjaga dengan baik hati membongkar kamar kita untuk cari kuncinya, tapi nihil. Desta dan Afi juga bongkar-bongkar tas sendiri, dan gak ketemu apa-apa. Saya juga berusaha nyari, tapi tetap gak ada. 

Pasrah, si Afi bayar denda. Merelakan uang deposit-nya hangus di hostel itu. Semangat Fi, masih hari kedua! 

Gak mau buang waktu, kita melupakan masalah si kunci hilang dan uang deposit hangus itu. Kita langsung meluncur naik BTS lagi menuju Bandara. Muka kita bertiga udah kusut. Kena panas, kaki pegel, deposit hangus (Afi), di BTS gak dapat duduk pula.

Di tengah-tengah kebengongan kami waktu berdiri di BTS, Afi tiba-tiba panik lagi. “EH. Tas oleh-oleh gue dimana ya?” – Jengjeng.

Sadar Afi kehilangan tas, dan menyadari bahwa tasnya ketinggalan di hostel, dan menerima kenyataan bahwa belanjaan Afi adalah yang TERHEBOH dan TERBANYAK, respon pertama saya sama Desta adalah : ngakak.

Begitulah teman. Yang sabar ya. Setelah tertawa, kami memberikan pukpuk yang tulus ke Afi, sambil membesarkan hatinya untuk merelakan saja uang ratusan ribu dan hasil peluh berbelanja ini itu kemarin. Anggap aja sodakoh sama mba-mba penjaga hostel yang baik. 

Setelah ngumpat dan kesel sendiri, si Afi mengakhirinya dengan : “POKOKNYA DI PHUKET GUE AKAN BELANJA LEBIH BANYAK LAGI. LEBIH MAHAL LAGI. BODO AMAT.”

Iyhaa fi, iyhaaa. HAHAHAHAHAHA.

--

Bersambung
 
Previous PostOlder Posts Home