Ratna Sofia

Author
Lepas satu Shubuh pertama di dua puluh empat, tulisan ini mulai saya buat.
Hanya satu jam tersisa sebelum harus bersiap untuk sebuah perjalanan.


Ehm.
Hari ini, tepat sudah dua puluh empat, yang saya genapi.
Terimakasih untuk sebagai-baik : keluarga, teman, rezeki, juga iman, yang dititipi.


Dua puluh empat.
Setiap hari saya menua satu hari. Pun hari ini. Tidak ada yang khusus, kecuali sebuah selebrasi. Sebuah pengingat diri.

Juga seperti hari ini.
Saya memilih menghadiahi diri dengan sebuah tiket perjalanan. Di dalamnya tertulis : CGK-LOP, 22 April 2016. Bukan dua atau tujuh tiket. Tapi hanya satu. Akan ada solo traveling di dua puluh empat, sebagai sebuah pengingat.

Seperti kali ke- dua puluh empat sebelum ini, saya dianugerahi satu tiket perjalanan.
Diizinkan menjalani masa pra-hidup sembilan bulan, sebelum akhirnya saya dipercaya untuk memulai perjalanan seorang diri. Tanpa teman, tanpa bekal. Namun menjanjikan kehidupan.

Saya kecil, dan saya yang dua puluh empat, akan kembali memulai perjalanan ini dengan satu tiket.
Saya kecil, dan saya yang dua puluh empat, akan bertemu dan menjumpai teman, ketika sampai di tujuan.

Bukannya hidup selalu seperti ini?
Berjalan untuk bertemu.

--

Pada akhirnya,
Tunggu saya di situ.
Untuk dua puluh empat, yang menjanjikan sesuatu.


Lantai 2. Kosan Benhil Raya.
4/22/2016 - 5 : 53 AM.

--
Updated 7:48 AM @ Soetta Airport

Satu bonus hari ini:
Sajak yang saya simpan di sebuah catatan.

Saya tak meminta siapapun untuk mengerti
Tanpa pergi dan berhenti, orang-orang seperti saya akan mati.

Kamu bisa mengecap mewahnya berdiam diri.
Sementara saya, harus terus mencari.

Sekali lagi, ini bukan untuk dimengerti.
Namun bisakah ia lepas dari semua interupsi?


Boleh cari uang.
Asal jangan sampai tumbang,
Apalagi habis waktu luang.


Saya pernah menuliskan kalimat di atas sebagai caption di salah satu post Instagram. Circle teman sepermainan saya yang isinya lebih banyak teman semasa kuliah, atau sesekali dengan teman masa SMA, rekan kerja, atau opentrip mate, membuat saya sedikit banyak menaruh perhatian untuk mereka. Saya ga lagi peres;  tapi saya sayang kalian kok. Untuk itu, tolong lah jangan kebanyakan minum kafein, begadang, atau lembur kerja terus ya. :)

Kalau kamu addict banget sama yang namanya kopi, cobalah ganti ke hot chocolate. Suka ke Starbucks? Beli ice chocolate-nya deh sesekali, enak kok! Kalau kamu tim Indomaret yang doyan beli cemilan dan minuman, cobain deh ganti Bearbrand atau susu ultra, segernya ga kalah luar biasa.

Tim Indomaret

Anak Kafe

Iya, saya masuk golongan anak kafe dan tim Indomaret yang selalu pesan cokelat atau susu kalau lagi nongkrong. Buat saya sih cool-cool aja minum susu, ah, hahaha.

Soal begadang, memang kadang timbul secara alamiah. Entah karena ngerjain tugas, atau sebuah sindrom bernama insomnia. Tapi belakangan, begadang lebih sering karena addict-nya kita pada sebuah benda bernama gadget. Main games sampai pagi, mencetin tombol likes/love/frowned di status teman, dan semua hal lain yang menyatakan keberadaan kita di situs jejaring sosial. Semoga saya, kamu, dan circle kita, bisa lebih bijak lagi untuk mengontrol ini. Semoga saya, kamu, dan circle kita, bisa punya ruang lebih untuk berinteraksi secara langsung. Bisa main air bareng, bisa minum cokelat tanpa terdistract sama handphone, atau bisa hunting foto dengan ragam ekspresi bareng. Yang saya pahami, kita berhak bahagia secara nyata. Bukan sekedar tulisan “wkwkwkwkw” dengan ekspresi datar. Hehehehe :))))

Terakhir, perkara lembur kerja. Untuk yang satu ini, saya ga berhak memberi barang satu atau dua saran. Kecuali sebuah pesan; jaga kesehatan. Gaji kamu yang tinggi, gak akan berarti apa-apa kalau akhirnya dia harus lari. Berpindah ke bahan-bahan kimia yang mencekoki tubuh kita untuk mencoba pulih.

--

Sok tahu saya, kita kerja bukan semata-mata buat upah.

Ayah, ibu, sama abang saya, ga nanya gaji saya berapa. Yang mereka mau tau, saya enak makannya, saya cukup istirahatnya, saya bisa jalan-jalan, saya ga lupa sholat sama ngajinya. “Yang penting Na senang”, kata mereka.


Jadi, cukupkanlah menjadikan gaji sebagai bahan olok-olok, candaan, atau instrumen dalam @meninggikan orang lain. Ada kok, guru honorer di sekolah Ibu yang gajinya 300.000 perbulan, sudah berkeluarga, dan mereka sepenglihatan kami bahagia-bahagia saja. Sebaliknya, ada juga kok, dia yang bergaji dua digit di depan setiap bulannya, tapi tampak selalu serba kurang. :)


Cheers!

Salah satu foto saya di Line, pada 11/10/15.

Nah! Beberapa waktu lalu, saya dapat kesempatan untuk menjadi narasumber di salah satu jaringan After College terbesar di Indonesia, yaitu Student Job ID. Mereka mempunyai satu program talkshow interaktif, yang disebut #IDStalk. Kebetulan waktu itu temanya Start Career in Marketing.

Berikut cuplikan interaktif via twitter yang saya copy dari blog ID Student Job.

Their website : http://studentjob.co.id/


Hallo kak @ratnasofia, apa kabar? Sekarang lg sibuk apa aja? #IDStalk
Halo @IDStudentjob, kabar baik nih. Sedikit cemas, banyak rindunya. Asik. Hahaha. Kesibukannya, lagi sibuk ngerjain hal yang saya suka. Yang satu, marketing. Sisanya jalan-jalan. :))


Ceritain dong gimana akhirnya bisa gabung di @DealokaID? #IDStalk
Pertama kali gabung di Dealoka, sejujurnya banyak cobaan sama ragunya. Adalah semacam menentang arus. Buat anak PTN saya yg notabene lulusannya bekerja untuk BUMN, Multinational Company (MNC), atau perbankan. Nah, Startup? Siapa yang lirik? Beruntung, saat itu saya tau apa yang saya gak mau. Untuk itu saya pilih yang berseberangan. Ya, Startup. Terdengar LEGIT dan menantang.


Apa sih yang membuat kak @ratnasofia memilih bekerja sebagai marketing? #IDStalk
Memilih marketing, karena memang suka sama dunia beginian. Dunia yang menuntut kita buat menjauh dari kata monoton. Dan sejalan juga dengan program studi yang saya ambil saat kuliah. Kan, sebaik-baik ilmu, adalah yg dimanfaatkan :p


Gimana rasanya kerja di start up seperti @DealokaID? #IDStalk
Rasanya nano-nano. Manis, asam, pahit, tapi bikin ketagihan. Tantangan banyak, tapi peluangnya jauh lebih banyak. Di @DealokaID, saya banyak banget dapat kesempatan buat belajar. Dari A sampai Z. Dari Direktur, sampai kucing. Dari pagi sampai pagi lagi. Terpenting, disini semuanya FUN. COLOURFUL. Dan jauh dari kesan kantoran yang boring. Disini saya dapat pengalaman dan pelajaran, yang saya yakin, gak akan saya dapat kalau dulunya saya mengikuti arus kebanyakan.


Apa aja yang menjadi tanggung jawab kak @ratnasofia sebagai marketing di @DealokaID? #IDStalk
Tanggung jawab marketing lumayan banyak, mulai dari bikin event, akuisisi brand besar, sampai urus hal perintilan. Nah termasuk di dalamnya controlling sosmed, ads/iklan yang beredar buat publik, sampai brand awareness.


Suka dan duka apa saja yang pernah dialami saat bekerja sebagai marketing ? #IDStalk
Hmm suka duka ya. Lebih banyak sukanya sih kalau kerja disini. Kerja jadi berasa ga kerja. Karena memang suka. Dukanya paling suka kecapean pasca event. Selebihnya, saya menganggap kerjaan saya adalah hobi yang dibayar.


Apa yang menjadi rahasia kerja kak Ratna sehingga mampu dipromosikan sebagai marketing Manager Dealoka? #IDStalk
Wah, hehehehe. Ga ada rahasia dan nihil tips sebetulnya. Yang saya yakini, sesuatu yang dikerjain dari hati sampainya akan ke hati. Ga perlu ribet sama posisi, cukup jaga kepercayaan yang dikasih, apapun bentuknya. Selebihnya, jangan lupa piknik :D


Apa saja persamaan dan perbedaan yang dirasakan setelah di promosikan sebagai marketing manager? #IDStalk
Sebetulnya ga terlalu berbeda. Paling kalau sekarang jadi punya lebih banyak ruang buat berkreatifitas lebih. Selebihnya, dulu dan sekarang sama-sama menyenangkan. Dulu belajarnya sendiri,sekarang udah banyak temennya :)


Terakhir, apa tips atau pesan khusus dari kak Ratna untuk anak muda yang ingin memulai karir di dunia marketing? #IDStalk
Jangan takut salah, jangan takut mencoba, dan jangan takut terlihat berbeda dari arus kebanyakan. END.


---

Itu tadi review hasil interaktif bareng Student Job.

Setelah sesi tanya dari si admin, ternyata lumayan banyak juga yang nanya-nanya. Saya mendadak artist wkwk. Followers nambah banyak euy. *skip

Anyway, I thank to Student Job for having me! Saya banyak belajar!


Cheersss!


----

Lampiran :
Kapanlagi sekali tweet bisa dapat impression 2700-an wkwk.



Pada Bumi,
Matahari adalah cahaya yang dirindukan
Menyinari penjuru, meminjamkan kehidupan

Padamu,
Aku seperti datang terlambat
Menyadari saat semua sesuatu sudah lewat

Pada Bumi,
Matahari ingin dikejar
Meski butuh lebih dari 300 hari untuk satu garis edar

Padamu,
Aku berpura menghindar
Mengabai hadir, pun menolak tuk berpendar

Pada Bumi,
Matahari melihat Bulan yang menawarkan kilauan
Menjaja kehangatan, juga kecantikan di kala kelam

Padamu,
Kulihat kikis kagum itu, berpindah pada pelangi di angkasa
Dia tampak memberimu warna, juga rona

Pada Bumi,
Matahari merutuk diri
Guna apa cahaya, jika ada bintang lain yang lebih benderang bagi Bumi

Padamu,
Ku gumam sesak dalam hati
Kata itu, bahkan belum pernah kudengar meski satu kali


Namun pada akhirnya...

Pada senja,
Matahari memilih tidur dan tenggelam di ufuk bumi

Padanya,
Aku mengikhlas, dan bergerak senti demi senti

Pada bumi, 
Padamu, 
Pada senja, 
Padanya,

Izinkan kami,
Mundur teratur..




Senja di ufuk Panorama

--

Tangerang Selatan
26/3/16, pukul 00.15
Bangkok sebetulnya adalah destinasi bonus.

Tujuan utama kami adalah Phuket. Awalnya, dengar nama Phuket aja saya udah ngeri duluan. Ngeri soal budget, ngeri gimana disananya, ngeri juga soal teman perjalanan. Maklum, saya lumayan asing dengar pulau ini disinggahi sama teman-teman saya yang hobi keluar negeri. 

Setelah searching sedikit, nama Phuket secepat kilat jadi destinasi impian di awal 2016 kemarin. Tadinya, ada sekitar enam orang teman yang katanya mau diajak jalan-jalan keluar. Tapi biasa, berakhir wacana. Tanggal 1 Januari, saya menetapkan hati buat menulis Phuket di daftar destinasi 2016. Tanggal 5 Januari, saya udah dapat dua teman yang memastikan diri mau ikut. Enggan berwacana, kita buat grup whatsapp, dan langsung punya tiket di tangan. Tiga lembar tiket yang bertuliskan : keberangkatan 28 Januari, kepulangan 1 Februari 2016.

Dadakan? Bodo. Yang penting jadi berangkat. Minim waktu pesiapan, tapi maxi kita manfaatkan. Nah sebelum menunggu tanggal keberangkatan, saya akan berbaik hati share budget persiapan untuk perjalanan ini, yang sudah kami lengkapi semuanya di kurun waktu 1 minggu sebelum berangkat :

  • Flight Jakarta – Bangkok : 747.800 (Thai Lion Air) 08.20/13.35
  • Flight Bangkok – Phuket :  430.600 (Nok Air) 17.35/18.50
  • Flight Phuket – Jakarta : 890.000 (Tiger Air) 10.40/08.10
  • Hostel Vimarn – Bangkok : 163.000
  • Hotel Sunshine Patong – Phuket : (475.000/3) = 159.000
  • Hotel The Yim Siam – Phuket : (435.000/3) = 145.000
  • Hostel Kiwi Backapcker – Singapore : 175.000
Total tiket pesawat dan hotel : Rp. 2.710.000

---

28 Februari 2016.

Sekitar pukul 06.40, saya, Afi, dan Desta, sudah berkumpul dengan anteng di Bandara Soekarno Hatta. Iya pesawat kami keberangkat jam 8.20 pagi. Karena niat awal adalah ala-ala backpacker, maka mesti punya jatah bagasi, kami tak mengambilnya. Hanya menggendong satu tas ransel dan 1 tas jinjing. ((Berangkatnya sih gitu, gak tau aja pulangnya lebih heboh dari ibu-ibu Tanah Abang hahaha))

// Drama 1 //
Setelah lolos imigrasi clearance, kita bertiga tergopoh menuju boarding room yang ternyata kepagian. Baru buka 15 menit lagi katanya. Tanpa komando,  kami urung masuk kesitu dan balik kanan cari tempat duduk di luar. Begitu akan duduk, si Afi tiba-tiba panik. 

“EH. Tas gue mana?” “Yang mana fi?”, “Itu yang kecil, isinya dompet, handphone sama paspor”.
“Aduh ceroboh ba—Eh bentar, HP gue mana?!!”, - saya ikutan panik.

Jadilah saya sama Afi panik berjamaah. Desta kita suruh jaga barang dulu. Sementara itu kami berdua lari-lari kecil nyamperin mas-mas penjaga pintu scanning barang. 

“Mas, mas, ada tas dan handphone ketinggalan gak?”. Pertanyaan yang cuma dijawab dengan senyum sambil nunjuk ke kotak warna biru tempat tas dan handphone kami berada.

---

Itu masih di Jakarta, kawan-kawan. Drama udah dimulai aja. Kebayang kan 5 hari berikutnya? Mungkin kita udah bisa bikin sinetron.

Selebihnya, drama-drama lain ga akan dikupas disini demi menjaga nama baik kami bertiga :)))

Maskapai kita adalah Lion Air waktu itu. Transit sejam-dua jam di Singapore, kami sempatkan berfoto barang dua-tiga cekrek, di Bandara yang katanya dinobatkan sebagai bandara terbaik dunia itu. Memang make sense sih. Semuanya serba steril, canggih, dan nyaman, sampai akhirnya kami melanjutkan penerbangan dengan Thai Lion Air. Sejauh ini, dari puluhan kali history penerbangan saya, ini adalah yang termulus. Mulai dari take off sampai landed-nya, mulus abis. Pelayanan dan interiornya juga sebelas dua belas dengan Garuda Indonesia. Ohya, sepanjang perjalanan saya punya adik baru. Namanya, Ming, 4 tahun. Anaknya ganteng banget, pintar, dan imut. Kami main mobil-mobilan, game ipad, dia minta dipangku, dan ditutup dengan selfie bareng. Ngasuh si Ming ini berbuah dengan saya akan ditraktir kopi sama ibunya. Tapi saya tolak sih hehehe, kan ceritanya suka rela gitu.

---

Mendarat di bandara Don Mueang Bangkok, kami langsung menuju keluar untuk mencari bis menuju penginapan. Belum juga keluar, eh kita melipir ke sebuah toko di Bandara dengan plang besar yang kurang lebih artinya : “Jual Sim Card Happy Tourism, Internetan Sepuasnya”. Harga satu simcardnya ratusan ribu, saya lupa berapa tepatnya. Tapi dasar backpacker gadungan, kami bertiga, tanpa tedeng aling-aling, semuanya beli itu simcard. Padahal, kita sama-sama sadar di Thailand cuma 3 hari, dan hotel ada wifi semua. Padahal, kalaupun mau beli, satu juga cukup, yang lain tinggal tethering. Padahal, kita juga sama-sama tau, kalau beli simcard di 7-Eleven yang tersebar di negara ini, harganya bisa sepertiga dari harga bandara dengan kuota secukupnya. Yhaaaaaaaa.

Langsung pakai buat google map. Ciye gituu
---

Selanjutnya, perjalanan kami dari Bandara ke penginapan, cukup dengan naik bus Damri A2, turun di Mochit, sambung BTS menuju Halte BTS Phaya Thai.


Kalau di Jakarta, kita menyebutnya Damri rasa Kopaja
BTS dari Mochit ke Phaya Thai

Dari Phaya Thai, inggal jalan kaki, sampai Vimarn Hostel deh. Ah, soal kayak gini, kita serahkan sepenuhnya ke Desta. Doi udah macam jelang ujian, sebelum berangkat udah pelajari bukunya dan menghafal nama-nama BTS disini. Dia tau harus naik apa, turun dimana. Hahaha, terimakasih ibu!

Nah, ini Vimarn Hostel! Lebih dari yang kita bayangkan! Tempatnya super asik. Minimalis, keren, dan kekinian. Mulai dari pelayanan staff-nya, cemilannya, kamarnya, sampai urusan toilet, saya kasih review 5/5 untuk hostel ini di Trip Advisor dan Traveloka.

Lobi Hostel Vmarn. Highly recommended.

Setelah check in, taruh barang, dan sholat jama Dzuhur + Ashar, kita langsung bergegas menyusuri kota Bangkok! Karena lokasinya strategis, kita cukup berjalan kaki untuk menyinggahi tempat-tempat yang wajib dikunjungi disini, seperti pusat belanja Platinum, Siam, dll. Saya merekam banyaaaaaaaak banget video. Tapi lain kesempatan aja di share-nya, kalau youtube channel saya udah ada. Hahaha.

Ini adalah Platinum tampak luar. Tampak dalamnya, mirip ITC. Jadi ga usah dilampirin fotonya ya.

Nah di Platinum ini, ibaratnya surga belanja. Semacam ITC kalau di Jakarta. Makan pertama kami di foodcourt disini. Ga sulit buat cari makanan halal, karena mereka sudah besar-besar melabeli tokonya yang menyediakan menu halal dengan ibu-ibu berkerudung.

Kalau kamu mampir kesini, jangan sia-siakan kesempatan buat buang-buang receh disini ya! Karena tempat lain belum tentu bisa semurah dan selengkap disini.

Setelah lumayan puas belanja, jajan, dan jalan, kita bergegas kembali mencari BTS terdekat dan melanjutkan perjalanan malam ke.... Asiatique! Katanya sih, ini objek kunjungan wajib buat para pelancong disini. Menuju Asiatique, kami naik boat atau kapal yang lumayan gede, tapi rame banget, sesak oleh turis. Naiknya gratis! Turunnya juga gratis.


Rame kan?

Kalau kata saya sih, menyederhanakan Asiatique ya semacam tempat nongkrong, ada satu dua permainan ala dufan, tempat jajan, dan tempat belanja oleh-oleh. Semacam pasar malam versi mevvah.

Berikut dokumentasinya :

Pasar Malam versi mevvah

Capturing moment
Di bawah 'Dinasti' Mekong

Di Asiatique, kita jalan sampai kaki ga berasa kaki. Belanja sampai terlihat lebih rempong dari ibu-ibu Tanah Abang. Yang paling penting, disini saya bisa bisa menikmati setiap sudutnya, setiap dentuman musik tradisional, setiap keahlian pembeli dalam menawar barang, setiap bahasa yang terdengar berbeda, dan untuk malam yang saat itu cerah benderang karena 'matahari' buatan. :)

Pulang-pulang, kaki udah pegel kayak apaan tau. Kami menyempatkan diri mampir ke 7-Eleven sebelah hostel, buat beli cemil-cemilan dikit. Saya? Ya jajan ini dong :

Heaven on earth : Milo ice cream.

 --

29 JANUARI 2016

Pagi-pagi, saya, Desta, dan Afi, udah packing lagi. Jadwal kami hari ini : check out hostel sambil titip tas, pergi ke kuil, balik lagi ke hostel mengambil tas, dan terbang ke Phuket. Semacam padat berisi. Sebelum cabut, kita sarapan dulu di sini. Adanya susu, roti, gandum, dan snack. Saya? Beli nasi aja deh di 7-Eleven sebelah. :’)

Dari kiri ke kanan : makanan saya ; Afi, Desta

Perjalanan dimulai dengan naik BTS Phaya Thai, bayarnya 42 baht 1 orang. BTS mengantarkan kami kembali ke sungai Chao Phraya, tempat kemarin nyeberang ke Asiatique. Naik boat lagi, 80 baht PP, menuju Wat Arun. Cerita dan legenda tentang tempat ini, di googling aja ya kak. Ratnanya udah ngantuk.

Salah satu spot di Wat Arun

Setelah Wat Arun, lanjut Wat Pho. Kuil Budha tidur.

Sesungguhnya membutuhkan keahlian khusus buat mendapatkan spot dengan Buddha sebagai backgroundnya..
Khusyu.

Lanjut yang terakhir, adalah Grand Palace.

Demi Allah, panasnya masya Allah. Entah udah berapa belas kilo total perjalanan kaki kita di 24 jam terakhir. Puncaknya yang abis dari Grand Palace, ga kuat panas dan jalan, kita pilih tuktuk. Sebetulnya, karena perkara dikejar waktu banget. Hampir pasrah ketinggalan pesawat.

Karena gak ada foto dalam Tuktuk, saya screenshot dari Videonya aja deh.

Ajaibnya, meski watir ketinggalan pesawat, turun dari Tuktuk bukannya kita bergegas nyeberang ke halte BTS, malah ngadem dulu, beli jajanan di pinggiran kawasan Wat Arun. Tapi asli, enak banget! Coconut Thailand yang terkenal itu, ternyata memang seenak itu.

Seafood super enakkkk!!

The femes : Coconut Thai


Jadi gini rasanya minum kelapa muda Thailand di Thailand..

---

// Drama ke-N dan ke-N+1 //

Sesampainya di Hostel, kita tergesa-gesa macam orang ketinggalan kereta. Dan nasib buruk melanda Afi kembali. Setelah malamnya sempat menghilangkan kunci kamar, tapi akhirnya ditemukan sama mba-mba penjaga, hari pas check out Afi mengulangi hal yang sama. Kunci kamar punya Afi hilang. Mba penjaga dengan baik hati membongkar kamar kita untuk cari kuncinya, tapi nihil. Desta dan Afi juga bongkar-bongkar tas sendiri, dan gak ketemu apa-apa. Saya juga berusaha nyari, tapi tetap gak ada. 

Pasrah, si Afi bayar denda. Merelakan uang deposit-nya hangus di hostel itu. Semangat Fi, masih hari kedua! 

Gak mau buang waktu, kita melupakan masalah si kunci hilang dan uang deposit hangus itu. Kita langsung meluncur naik BTS lagi menuju Bandara. Muka kita bertiga udah kusut. Kena panas, kaki pegel, deposit hangus (Afi), di BTS gak dapat duduk pula.

Di tengah-tengah kebengongan kami waktu berdiri di BTS, Afi tiba-tiba panik lagi. “EH. Tas oleh-oleh gue dimana ya?” – Jengjeng.

Sadar Afi kehilangan tas, dan menyadari bahwa tasnya ketinggalan di hostel, dan menerima kenyataan bahwa belanjaan Afi adalah yang TERHEBOH dan TERBANYAK, respon pertama saya sama Desta adalah : ngakak.

Begitulah teman. Yang sabar ya. Setelah tertawa, kami memberikan pukpuk yang tulus ke Afi, sambil membesarkan hatinya untuk merelakan saja uang ratusan ribu dan hasil peluh berbelanja ini itu kemarin. Anggap aja sodakoh sama mba-mba penjaga hostel yang baik. 

Setelah ngumpat dan kesel sendiri, si Afi mengakhirinya dengan : “POKOKNYA DI PHUKET GUE AKAN BELANJA LEBIH BANYAK LAGI. LEBIH MAHAL LAGI. BODO AMAT.”

Iyhaa fi, iyhaaa. HAHAHAHAHAHA.

--

Bersambung
 
Tahun udah masuk 2016 aja. Perasaan baru minggu lalu nonton Dragon Ball, yang nyatanya tayang di tahun 1998. Rasanya baru kemarin sore bikin ini blog, eh gak taunya udah lewat 7 tahun. Ya begitulah, kita pada akhirnya sampai di hari yang pernah kita khawatirkan di 1 atau 2 tahun lalu, di sepuluh atau dua puluh tahun lalu.

Hari ini, (mungkin) saya juga sedang mengkhawatirkan suatu masa. Yang entah (mungkin) datangnya 1 atau 2 tahun setelah ini. Kalau masa itu datang, saya akan lapor lewat tulisan disini ya :) Hihi.

Teman-teman yang baik, saya akan mulai lagi untuk bercerita di situs ini. Terbaca atau tidaknya, bukanlah suatu masalah buat saya.

Saya, anak (sok) muda ini akan mengkolase perjalanan-perjalanan di 2016 dalam episode yang akan saya beri judul "Menemukan Surga". Jangan lewatin episode pertamanya ya! Paling lambat minggu ini tayang :p


Mengkolase Episode Menemukan Surga

Salam,

Anak Muda.


Desember 31, bagaimanapun, akan selalu jadi hari dimana kita punya ruang untuk menghadirkan 364 hari sebelum ini. Waktu kita membuat resolusi, waktu kita mendesain mimpi, hingga pada akhirnya menjalani hari demi harinya.

Kepada 2015, izinkan saya mencatat tiga hal yang menjadi highlight sepanjang tahun ini.


Turning Point
Sedikit mengutip dari kalimat Kurniawan Gunadi; bahwa ada satu titik kita mengalami masa dimana rasanya ingin menghilang dari peredaran, hingga tidak ingin dihubungi siapapun. Bukan karena kita ingin menyendiri, tapi kita ingin mengambil jeda dan membiarkan diri kita berjuang untuk kemudian kembali lagi ke permukaan.

Hal ini juga kejadian sama saya di akhir 2014 lalu. Menjadi hari-hari dimana ga ada yang lebih baik dibanding menenggelamkan diri dari pikuk orang kebanyakan. Blog ini bahkan saya tenggelamkan. Ya, segitunya. Seperti kata Kak Gun, “… maka hilanglah, kejarlah dunia itu, dan kembalikan dengan pencapaian terbaik...”

Beruntung, awal 2015, kemudian menjadi turning point buat saya. Ada kata “Hai”, untuk dunia yang baru.


Pencapaian
Apa yang akhirnya bisa disebut pencapaian? Saya juga ga tahu pasti. Tapi yang bikin saya senyum, ada deretan desain mimpi yang akhirnya tercoret. Mulai dari ragam destinasi, pelajaran dan pengalaman baru, sampai jenjang karir.

Saya bisa senyum bangga waktu menginjakkan kaki di puncak Anak Krakatau; saya bisa ketawa lepas sepanjang perjalanan ke Pahawang, saya bersyukur untuk dipercaya mendapat amanah baru di kantor, saya senang mendengar cerita teman walau hanya ditemani secangkir kopi, saya bahagia waktu bisa beli ini-itu untuk orang tua. Dan ratusan moment lain yang mulai berpendar satu satu di kepala saya.

--
Bagi sebagian orang, apa yang saya lalui mungkin terlihat mulus, terlihat beruntung. Tapi, yang orang-orang alfa lihat, adalah prosesnya, perjalanan menuju kesananya.

Bagi sebagain orang, apa yang saya capai mungkin adalah hal cetek. Tapi, yang orang-orang alfa lihat, bahwa ada hati yang nyaman dan bahagia ketika seorang saya meraihnya.
--

Yang saya mau bilang, masing-masing kita punya standar dan cara pandang yang beda atas sesuatu. Kita ga melulu mesti sama dengan apa yang diekspektasikan orang. Sok tahu saya sih gitu.


Teman Perjalanan
Bab terpanjang, teristimewa, adalah tentang teman perjalanan. Banyak sekali ragamnya. Ada yang teman musiman, teman segala cuaca, teman main, sampai teman pemburu makanan.

2015 terlalu menyisakan banyak cerita soal mereka. Ada yang lamaran tapi ga bilang-bilang. Ada yang ngilang pasca BEM berakhir. Ada rekan kantor yang menjauh dengan dan tanpa sebab. Ada dua sahabat yang akhirnya menikah dan jadi pasangan. Ada yang bilang kangen tapi kalau jalan sama temen-temen lain gak pernah ngajak. Ada yang kerjanya wacana-an mulu. Begitupun dengan ada teman-teman baru yang datang; yang kemudian hampir sama banyaknya dengan mereka yang pergi. Dan ada kesadaran, bahwa hal kaya gini sudah sewajarnya terjadi.

Namun pada akhirnya; kepada mereka, yang menemani saya dalam setiap fase di 2015 ini, terimakasih buat waktunya. Terimakasih buat kesempatan untuk melewati hari bersama kamu. Sukses teyus!

- Sebagian dari Teman Perjalanan -


Ratna Sofia.
31 Desember 2015, pukul 22.07
Previous PostOlder Posts Home