Ratna Sofia

Author
Ini sebuah cerita.
Bahwa sepanjang usia bumi bertemu dengan titik saya.
Selalu ada kata "sebentar"
Menunda yang tidak perlu digesa.
Menjadi pembenaran untuk tidak melakukan segera.

Oh.
Pandai sekali manusia mencari pembenaran.
Sebentar. Nanti. Akan.
Terus menjadi kata pengantar.

Sebentar,
Apa bab ini juga untuk pembenaran?


--

Di pojok Lawson.
20.09.

Makassar

Tahun lalu mungkin saya ga pernah membayangkan untuk mengunjungi Kota Daeng. Selain karena bukan merupakan tujuan wisata pada umumnya, provinsi ini juga terbilang bagian Timur-nya Indonesia. Ditambah lagi, saya ga punya kepentingan pekerjaan disitu. Mau ngapain?

Tapi adalah Dia, Pemlilik skenario tak tertebak. Berkat sebuah iseng ikutan lomba Instagram, saya mengantongi dua tiket gratis ke Makassar. Adalah iPeh yang terpilih menjadi peran figuran (HAHAHA!), alias pendamping waktu itu. Oh ya terimakasih banyak buat Indonesia Flight untuk tiket gratisnya. Maafin kita yang gak mau rugi, jadi pilih penerbangan termahal di jam terbaik, hehehe.

Sebelumnya, ini adalah Budget on Travel 1 orang selama perjalanan :

Tiket Pesawat dan Hotel 
- Jakarta - Makassar :  Rp. 1.378.000 = Rp. 0 (Tiket Gratis)
- Makassar - Jakarta :  Rp. 1.264.000 = Rp. 0 (Tiket Gratis)
- Hotel Losari (dua malam) : Rp. 420.000/2 = Rp. 210.000/orang

Transportasi (kurang lebihnya ya)
- Damri Bandara - Kota = Rp. 30.000
- Taksi selama di Makassar = Rp. 125.000
- Becak, Gojek selama di Makassar = +/ 100.000
- Angkutan ke Pulau XX = Rp.30.000
- Angkot ke Rammang-Rammang PP = Rp. 35.000
- Ojek di Rammang-Rammang PP = Rp.40.000
- Perahu Rammang-Rammang (1 Perahu 200.000) = Rp.100.000

Gaya Hidup
- Kulineran (makan, ngopi, nyemil, icip-icip) = Rp. 400.000
- Oleh-Oleh (baju, kain, tas, makanan, dll) = Rp.300.000

Jadi kalau di total-total, habis sekitar Rp. 1.370.000 untuk saya pribadi. Dengan asumsi tiket pesawat gratis, dan di luar ongkos taksi dari rumah masing-masing ke Bandara Soetta PP.

20 Mei 2016

Berikut itinerary singkatnya :
Berangkat Subuh dari kosan - Pesawat pukul 07.15-10.45 - Bandara Hasanuddin - Damri ke kota Makassar - Sambung taksi ke Losari Hotel (check in) - Wisata Kuliner 1 - Fort Rotterdam - Wisata Kuliner 2 - Pantai Losari - Wisata Kuliner 3 - Balik ke Hotel (bersih-bersih) - Dijemput Ucup - Wisata Kuliner 4 - Pindah Tempat – Wisata Kuliner 5.

Wisata Kuliner? (zoom in zoom out). IYA. Sehari  5 kali makan.Yaitu :
1. Coto Makassar di Coto Nusantara
2. Mie Titi di seberang Pantai Losari
3. Pisang Epe di Las Vegas, Anjungan Losari
4. Palbas Serigala
5. Es pisang Ijo, Kelapa Muda, dll di Kampung Popsa
 

Warm.

Senja di Losari


Dari Pantai Losari kami menikmati suguhan senja yang romantis. Magis. Dan bersahabat kepada semua orang. Hingga berakhir di Kampung Popsa bareng Ucup dan teman-temannya.


21 Mei 2016


Gagal ke Samalona.
Hari kedua lumayan failed dari rencana yang sudah disusun. Awalnya, kami berencana ke Pulau Samalona, yang berdasarkan gambar yang saya lihat sih bagus banget.

Pulau Samalona dari Gambar Instagram orang

Jadilah pagi-pagi kami sudah siap di area Pantai Losari yang menurut informasi adalah tempat penyeberangan untuk ke pulau-pulau.

Saya cuma berdua Ipeh, tadinya kami berekspektasi bahwa kami bisa gabung dengan rombongan lain untuk ke Samalona atau Kodingareng Keke. Tapi nyatanya, untuk menuju pulau tersebut, harus carter satu perahu. Apalah, kami cuma berdua. Menyewa satu perahu berdua, nampak bukan jadi pilihan yang baik waktu itu. Sayang duit juga sih. Karena satu perahunya untuk ke Samalona berkisar di Rp. 500.000. Kalau untuk ke Kodingareng Keke lebih mahal lagi, tambah sekitar 100-300.

Di bawah tugu, membelakangi laut, kami duduk mikirin rencana selanjutnya. Makin terik di Losari, saya dan Ipeh makin kehabisan akal. Hari ini itinnya akan kemana, gimana, dan naik apa.

Berbekal keyword yang itu-itu saja di Google, akhirnya kami bulat menentukan akan kemana hari itu, dan bahkan merombak itin hingga esok harinya. YEAY! Here we go!

Adalah Pulau Lae-Lae di seberang Losari yang akhirnya kami pilih untuk didatangi hari ini. Psst, tapi berangkatnya sore aja, sambil menikmati sunset.

Maka itineraty yang kami susun adalah sebagai berikut :
  1. Kuliner Sop Karebosi dan Iga Bakar
  2. Belanja Oleh-Oleh
  3. Tidur siang di Hotel (iya ini bagian dari itin -_-)
  4. Ke Pelabuhan menuju Pulau Lae-Lae
  5. Menghabiskan sore di Lae-Lae.
  6. Dan ditutup dengan Kuliner-an lagi. 

Berikut adalah beberapa dokumentasi kami di Pulau Lae-Lae :
Selamat Datang,

Memotret sang figuran

Entah keberadaan alat ini untuk apa. Tapi saya rasa, akan menimbun lautan.
Digulung mendung


Setelah seharian main ini-itu, kesana dan kemari, menyadari oleh-oleh juga sudah penuh, akhirnya datanglah rekomendasi dari si Fachril Jeddawi di malam hari. “Besok wajib ke Taman Bunga lo Na, ke Akkarena. Subuh-subuh  udah harus disana, liat sunrise!”, kurang lebih begitu salah satu petuah kak Eril ini.

Dengan semangat 47, saya kasih tau ke Ipeh rencana ini. Bahwa ada satu tambahan yang harus dimasukkan ke list kunjungan di hari ketiga. “Peh, kita harus setel alarm jam 4. Besok ga usah mandi, cuci muka aja, solat Subuh, langsung pesan gojek.”, begitu kurang lebih kata saya.


Minggu, 22 Mei 2016


Pagi-pagi buta ba’da Shubuh, pesanan gojek urung kita lakukan. Karena susah menemukan gojek di Subuh buta, dan masuk angin juga kali ya ke pantai Subuh-Subuh naik motor.  Walhasil, kita lari-lari keluar hotel, cari taksi menuju pantai Akkarena

Boro-boro ada matahari, itu masih gulita. Jadi sesampainya wilayah Akkarena –yang kata Eril spot sunrise itu- terlihatlah pagar dan gerbang yang tertutup.  Taksi gabisa masuk. Jadilah saya dan Ipeh turun disitu, dan melakukan aksi terobos gerbang, alias manjat-manjat dikit.

Sepi…..
Hening……

Saya sama Ipeh mempercepat langkah. Mendekati pantai. Makin dekat. Makin dekat. Ada sinar pantulan di sudut pantai.

Tapi kok….

Bulan

BULAN?
Saya tungguin sampai agak terangan dikit..

Eh ternyata memang bulan... Bukan fajar

Boro-boro lihat matahari terbit. Yang kami lihat adalah kenyataan : bahwa AKKARENA ADALAH SPOT SUNSET. Dan kita datang SUBUH-SUBUH. Menghadap pantai, dan matahari terbitnya dari bukit yang berlawanan, alias ga bakal kelihatan. BYE RIL.

Kami jadi wisatawan pertama yang datang ke tempat ini. IYALAH SUBUH. Hahahaha. Tapi gapapa, ada hikmahnya.

Di Akkarena yang sepi itu, saya menghirup udara yang damai sekali. Desir ombak yang landai, kicau burung, hingga bulan yang terbenam.





Setelah puas dengan Akkarena, naik taksi kembali, tapi kami turun di Anjungan Pantai Losari. Bergabung bersama puluhan ribu warga Makassar yang menyemut di pusat kota itu. Minggu pagi, waktu Car Free Day buat mereka. Mulai dari warga yang senam, sales-sales menjajakan produk, hingga kumpulan komunitas yang meregang Minggu di pagi itu.

Saya dan Ipeh memilih melipir ke KFC,  junkfood andalan semilyar umat.
Oh ya, hotel kami itu bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Pantai Losari! Jadi buat kalian yang mampir ke Makassar, saya ga ragu untuk merekomendasikan Losari Metro Hotel ke kamu semua :) Harganya enak di kantong kok. Cuma 250-an semalamnya.

Beres sarapan dan sampai di Hotel, kami langsung  bersih-bersih dan final packing. Pukul 10.00 kami sudah berencana untuk check-out dan melanjutkan perjalanan selanjutnya; dengan tas dan koper dititip ke receptionist.

Kemana kami?
Ke Raos! Ke Rammang-Rammang, yang adalah karst terbesar kedua di dunia.

Cerita dan foto-fotonya? Nanti aja deh! :))

Demikian kisah perjalanan saya ke Makassar. Saya gabisa terlalu banyak untuk upload foto disini. Karena untuk foto dan nyawanya akan saya unggah di Steller. Ditunggu ya! :))


--

14 Agustus 2016.
Dari Resto Junkfood lainnya, A&W
Pamulang Square

Setelah Bandung, sekarang saya lagi ditugaskan buat 'menjaga' Surabaya untuk Dealoka. Meninggalkan Jakarta dan sekitarnya untuk waktu yang lumayan lama, ternyata butuh adaptasi juga. Gimana engga, nihil teman! Kalau kata anak jaman kini : hu hu hu.

Kota Makan Pahlawan

Kata sejarah, Surabaya ini adalah kotanya para Pahlawan. Walaupun saya sebagai tamu, belum merasakan aura "Pahlawan-nya". Setidaknya, sampai sekarang saya belum melihat ada jejak peninggalan sejarah di jalan-jalannya, pun Tugu Pahlawan yang semacam jadi iconic saja. Waktu saya lewat sana, dan berniat untuk potret-potret, saya bingung sendiri. Sang Tugu terpagar rapi. Jadilah urung niat saya mengabadikan situs sejarah, dan malah asik wisata kuliner. .__.

Anyway! Sabtu di weekend pertama saya habiskan dengan berkunjung ke beberapa tempat, termasuk belanja. Adalah Masjid Cheng-Ho, yang jadi tujuan pertama. Awalnya, saya lihat keberadaan Masjid ini di instagram, dan langsung tertarik! Bangunan yang unik dengan sejarah yang inspiratif saya pikir. Maka, dengan bantuan abang Gojek, saya bisa singgah di Masjid nan agung ini.

Menyentuh langit



Masjid Muhammad Cheng Ho.

Dimana ada laut di situ ada Cheng Ho. Dialah sang Laksamana, bahariawan asal China yang melegenda karena jasa dan pesan yang dibawanya.

Menurut Liputan6.com, Masjid ini punya banyak rahasia. Salah satunya : Meski kecil untuk ukuran masjid, namun ukuran bangunan yang 11x11 ini, diambil dari ukuran Ka’bah saat pertama kali dibangun Ibrahim. Dengan ukuran tersebut, setiap orang yang beribadah di masjid ini bisa meningkatkan level kusyuk dalam solatnya, seperti solatnya Nabi Ibrahim.

Subhanallah ademnya di tempat ini

Pengurus Masjid

Saya menghabiskan waktu cukup lama disini. Adem.

Esok Minggunya berjudul A Day with Renza, si anak Sidoarjo. Jadi kita memutuskan untuk say Hi ke si femes Suramadu. Kepalang sampai Madura, kita akhirnya googling dan cari si femes Bebek Sinjay. Sampai di tempat, bukannya lihat bebek kita malah di hadapin dengan plang gede bertuliskan "Maaf. Sudah HABIS", padahal masih jam 5 sore.

Walhasil, kami pindah ke tetangga, yang kayaknya sih ga terlalu kalah jauh femesnya dibanding si Bebek Sinjay. Buktinya : Jokowi pernah kesini. :""") 

Selfie sama Pak Jokowi. Bodo amat ya? Ya udah :(

Melewati Suramadu (sudut pandang pengendara motor.) Btw maaf gambarnya jelek. Ini dicapture dari video yang saya rekam,

Segitu dulu weekend pertama di Surabaya. Semoga weekend-weekend berikutnya lebih berwarna.

Btw, selamat berpuasa!!! :))
Semoga lancar hingga akhir, dan amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT.


Wassalamualaikum.
Buat kami, menonton AADC bukan lagi soal ekspektasi menanti kejutan-kejutan di film.
Buat kami, AADC adalah legenda. Adalah ruang untuk bernostalgia. Adalah waktu untuk membuat jeda. Untuk menanti Cinta, juga Rangga. Apa kabarnya?


Pertempuran Antara Ojek Online dan Asisten Virtual

Waktu itu 28 April 2016; pemutaran perdana AADC 2 di layar bioskop.

Aplikasi Gojek kemudian menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang bisa saya dan si teman lakukan. Kami sadar, adalah mustahil untuk membeli tiket on the spot saat jam pulang kerja. Jadilah, tepat pukul 12.30, saat seharusnya seluruh bioskop baru mulai beroperasi, jemari saya lincah memainkan tuts di aplikasi andalan sejuta umat Jakarta.

Go mart – XXI Metropole – 4 seat – “Pilih Seat yang belakang ya Mas.” – Order.

Beberapa menit kemudian, telepon dari abang Ojek. “Mbak, tiket AADC-nya habis sampai show terakhir. Adanya Civil War, mau?”

Saya telan ludah.

YHAAKALI BANG. MASIH JAM 12, SATU BIOSKOP SUDAH HABIS? SATU BIOSKOP KAN ADA BEBERAPA STUDIO. SATU STUDIO JUGA ADA BEBERAPA KALI JAM TAYANG. YANG BENAR SAJA.

Tentu, itu kata saya dalam hati.

Alhasil, setelah cek jadwal via aplikasi CGV Blitz dan Cinema 21, kami coba peruntungan lagi pesan Gojek. Semoga dengan pesan di Blitz yang notabene harganya lebih mahal, probabilitas untuk dapat tiketnya lebih besar.

Betul saja, si abang Gojek di pesanan yang berbeda telepon saya. “Kak, show jam 7 sudah penuh semua. Adanya jam 7.30, tinggal dua seat, nomor 1 paling depan, paling pojok kanan, Kak”.

Hening.

“Yaudah Bang, ambil aja”, kata saya akhirnya.

Belakangan, rasa penasaran saya akan hebatnya makhluk Jakarta pesan tiket pakai apa akhirnya terjawab sudah. Rupanya mereka sama saja seperti kami. Menyerahkan nasib pada abang-abang Gojek, dan jasa asisten virtual YesBoss. Bedanya, mereka ternyata jauh lebih gercep. Pesan Gojek dari jam 11, pesan YesBoss dari kemarin harinya. Jadilah bioskop sepenuhnya jadi pusat antrean mereka yang berjaket hijau. Pertempuran antara ojek online yang masing-masing mewakili ribuan kepala di Jakarta.


Charming in It’s Simplicity


Meski sangat antusias untuk film ini,  order dari siang hari, dan mengiyakan untuk duduk di shaf terdepan, paling pojok pula; saya datang tanpa ekspektasi. Pilihan terbaik yang pernah saya ambil hahaha. Hasilnya? Saya bahagia sepanjang film!

AADC 2, menyuguhkan sesuatu yang membuat kami tersenyum, tertawa, terharu, dan terus begitu berulang-ulang di setiap partnya.

Cinta was too beautiful! Too charming. Too cute!

Yaampun DIAN SASTRO!

Geng Cinta yang diwakili Milly, Karmen, dan Maura, saya jatuh cinta! Kalian lucu sekali. Apalagi Milly. Guyonan yang renyah, berikut haru yang buncah. Pertemanan yang tulus kalau kata Rangga.

Dan, sebagai pelengkap dari semuanya adalah puisi-puisi indah dari Rangga. Lengkap dengan pesona dan kharismatiknya.

YAAMPUN NICHO!!

Pada setiap scene-nya, saya merasakan sinematografi yang indah. Penyelipan produk sponsor yang sangat-sangat natural. Cerita yang logis di setiap detailnya. Pun, penyampaian pesan tersirat dari sang pembuat karya.

Scene Rangga yang menyempatkan kembali ke rent car, adalah salah satu hal terdetail dalam hal logika. Meski tanpa percakapan, saya menangkap pesan bahwa dia  extend mobil sampai keesokan harinya. Mengingat itu sudah dini hari, dan mereka masih akan melakukan perjalanan lainnya.

Begitu pula scene saat Rangga bilang, “saya ikut Pemilu loh”. “Oh ya? Kamu pilih siapa?”.
Pertanyaan Cinta dijawab dengan senyum oleh Rangga, sambil bilang “Sepertinya pilihan kita sama. Gimana? Kecewa ngga?”, senyumnya lagi.

Eaaa. Selamat mbak Mira Lesmana. Pesan Anda sampai!

HAHAHAHAHA.

Pict source : liputan6.com

All in all, AADC 2 adalah sederhana yang mewah.
Charming, in its simplicity.

--

Jadi, untuk kamu yang mengharap drama berlebih, film ini bukan rekomendasi yang baik.
Untuk kamu yang menanti kejutan dan cerita tak tertebak, beralihlah ke film lain. Bukan film legenda yang sudah dinanti 14 tahun untuk berakhir tragis (lagi).
Untuk kamu dengan tingkat imajinasi yang tinggi, Hollywood tetap jawabannya. Ada banyak sekali tokoh imajiner disana. Mulai dari manusia yang bisa jadi laba-laba, penghancur kota, sampai penebak kiamat.

:))))))

--

Anyway, saya janji akan nonton untuk kedua kalinya.

Di posisi tempat duduk yang jauh lebih layak, tanpa perlu dongak hampir 100 derajat ke atas dan ke sebelah kiri. HAHAHAHA.


Last and least, terimakasih buat Miles Film. Karya kalian selalu ajaib. :)
Lepas satu Shubuh pertama di dua puluh empat, tulisan ini mulai saya buat.
Hanya satu jam tersisa sebelum harus bersiap untuk sebuah perjalanan.


Ehm.
Hari ini, tepat sudah dua puluh empat, yang saya genapi.
Terimakasih untuk sebagai-baik : keluarga, teman, rezeki, juga iman, yang dititipi.


Dua puluh empat.
Setiap hari saya menua satu hari. Pun hari ini. Tidak ada yang khusus, kecuali sebuah selebrasi. Sebuah pengingat diri.

Juga seperti hari ini.
Saya memilih menghadiahi diri dengan sebuah tiket perjalanan. Di dalamnya tertulis : CGK-LOP, 22 April 2016. Bukan dua atau tujuh tiket. Tapi hanya satu. Akan ada solo traveling di dua puluh empat, sebagai sebuah pengingat.

Seperti kali ke- dua puluh empat sebelum ini, saya dianugerahi satu tiket perjalanan.
Diizinkan menjalani masa pra-hidup sembilan bulan, sebelum akhirnya saya dipercaya untuk memulai perjalanan seorang diri. Tanpa teman, tanpa bekal. Namun menjanjikan kehidupan.

Saya kecil, dan saya yang dua puluh empat, akan kembali memulai perjalanan ini dengan satu tiket.
Saya kecil, dan saya yang dua puluh empat, akan bertemu dan menjumpai teman, ketika sampai di tujuan.

Bukannya hidup selalu seperti ini?
Berjalan untuk bertemu.

--

Pada akhirnya,
Tunggu saya di situ.
Untuk dua puluh empat, yang menjanjikan sesuatu.


Lantai 2. Kosan Benhil Raya.
4/22/2016 - 5 : 53 AM.

--
Updated 7:48 AM @ Soetta Airport

Satu bonus hari ini:
Sajak yang saya simpan di sebuah catatan.

Saya tak meminta siapapun untuk mengerti
Tanpa pergi dan berhenti, orang-orang seperti saya akan mati.

Kamu bisa mengecap mewahnya berdiam diri.
Sementara saya, harus terus mencari.

Sekali lagi, ini bukan untuk dimengerti.
Namun bisakah ia lepas dari semua interupsi?


Boleh cari uang.
Asal jangan sampai tumbang,
Apalagi habis waktu luang.


Saya pernah menuliskan kalimat di atas sebagai caption di salah satu post Instagram. Circle teman sepermainan saya yang isinya lebih banyak teman semasa kuliah, atau sesekali dengan teman masa SMA, rekan kerja, atau opentrip mate, membuat saya sedikit banyak menaruh perhatian untuk mereka. Saya ga lagi peres;  tapi saya sayang kalian kok. Untuk itu, tolong lah jangan kebanyakan minum kafein, begadang, atau lembur kerja terus ya. :)

Kalau kamu addict banget sama yang namanya kopi, cobalah ganti ke hot chocolate. Suka ke Starbucks? Beli ice chocolate-nya deh sesekali, enak kok! Kalau kamu tim Indomaret yang doyan beli cemilan dan minuman, cobain deh ganti Bearbrand atau susu ultra, segernya ga kalah luar biasa.

Tim Indomaret

Anak Kafe

Iya, saya masuk golongan anak kafe dan tim Indomaret yang selalu pesan cokelat atau susu kalau lagi nongkrong. Buat saya sih cool-cool aja minum susu, ah, hahaha.

Soal begadang, memang kadang timbul secara alamiah. Entah karena ngerjain tugas, atau sebuah sindrom bernama insomnia. Tapi belakangan, begadang lebih sering karena addict-nya kita pada sebuah benda bernama gadget. Main games sampai pagi, mencetin tombol likes/love/frowned di status teman, dan semua hal lain yang menyatakan keberadaan kita di situs jejaring sosial. Semoga saya, kamu, dan circle kita, bisa lebih bijak lagi untuk mengontrol ini. Semoga saya, kamu, dan circle kita, bisa punya ruang lebih untuk berinteraksi secara langsung. Bisa main air bareng, bisa minum cokelat tanpa terdistract sama handphone, atau bisa hunting foto dengan ragam ekspresi bareng. Yang saya pahami, kita berhak bahagia secara nyata. Bukan sekedar tulisan “wkwkwkwkw” dengan ekspresi datar. Hehehehe :))))

Terakhir, perkara lembur kerja. Untuk yang satu ini, saya ga berhak memberi barang satu atau dua saran. Kecuali sebuah pesan; jaga kesehatan. Gaji kamu yang tinggi, gak akan berarti apa-apa kalau akhirnya dia harus lari. Berpindah ke bahan-bahan kimia yang mencekoki tubuh kita untuk mencoba pulih.

--

Sok tahu saya, kita kerja bukan semata-mata buat upah.

Ayah, ibu, sama abang saya, ga nanya gaji saya berapa. Yang mereka mau tau, saya enak makannya, saya cukup istirahatnya, saya bisa jalan-jalan, saya ga lupa sholat sama ngajinya. “Yang penting Na senang”, kata mereka.


Jadi, cukupkanlah menjadikan gaji sebagai bahan olok-olok, candaan, atau instrumen dalam @meninggikan orang lain. Ada kok, guru honorer di sekolah Ibu yang gajinya 300.000 perbulan, sudah berkeluarga, dan mereka sepenglihatan kami bahagia-bahagia saja. Sebaliknya, ada juga kok, dia yang bergaji dua digit di depan setiap bulannya, tapi tampak selalu serba kurang. :)


Cheers!

Salah satu foto saya di Line, pada 11/10/15.

Nah! Beberapa waktu lalu, saya dapat kesempatan untuk menjadi narasumber di salah satu jaringan After College terbesar di Indonesia, yaitu Student Job ID. Mereka mempunyai satu program talkshow interaktif, yang disebut #IDStalk. Kebetulan waktu itu temanya Start Career in Marketing.

Berikut cuplikan interaktif via twitter yang saya copy dari blog ID Student Job.

Their website : http://studentjob.co.id/


Hallo kak @ratnasofia, apa kabar? Sekarang lg sibuk apa aja? #IDStalk
Halo @IDStudentjob, kabar baik nih. Sedikit cemas, banyak rindunya. Asik. Hahaha. Kesibukannya, lagi sibuk ngerjain hal yang saya suka. Yang satu, marketing. Sisanya jalan-jalan. :))


Ceritain dong gimana akhirnya bisa gabung di @DealokaID? #IDStalk
Pertama kali gabung di Dealoka, sejujurnya banyak cobaan sama ragunya. Adalah semacam menentang arus. Buat anak PTN saya yg notabene lulusannya bekerja untuk BUMN, Multinational Company (MNC), atau perbankan. Nah, Startup? Siapa yang lirik? Beruntung, saat itu saya tau apa yang saya gak mau. Untuk itu saya pilih yang berseberangan. Ya, Startup. Terdengar LEGIT dan menantang.


Apa sih yang membuat kak @ratnasofia memilih bekerja sebagai marketing? #IDStalk
Memilih marketing, karena memang suka sama dunia beginian. Dunia yang menuntut kita buat menjauh dari kata monoton. Dan sejalan juga dengan program studi yang saya ambil saat kuliah. Kan, sebaik-baik ilmu, adalah yg dimanfaatkan :p


Gimana rasanya kerja di start up seperti @DealokaID? #IDStalk
Rasanya nano-nano. Manis, asam, pahit, tapi bikin ketagihan. Tantangan banyak, tapi peluangnya jauh lebih banyak. Di @DealokaID, saya banyak banget dapat kesempatan buat belajar. Dari A sampai Z. Dari Direktur, sampai kucing. Dari pagi sampai pagi lagi. Terpenting, disini semuanya FUN. COLOURFUL. Dan jauh dari kesan kantoran yang boring. Disini saya dapat pengalaman dan pelajaran, yang saya yakin, gak akan saya dapat kalau dulunya saya mengikuti arus kebanyakan.


Apa aja yang menjadi tanggung jawab kak @ratnasofia sebagai marketing di @DealokaID? #IDStalk
Tanggung jawab marketing lumayan banyak, mulai dari bikin event, akuisisi brand besar, sampai urus hal perintilan. Nah termasuk di dalamnya controlling sosmed, ads/iklan yang beredar buat publik, sampai brand awareness.


Suka dan duka apa saja yang pernah dialami saat bekerja sebagai marketing ? #IDStalk
Hmm suka duka ya. Lebih banyak sukanya sih kalau kerja disini. Kerja jadi berasa ga kerja. Karena memang suka. Dukanya paling suka kecapean pasca event. Selebihnya, saya menganggap kerjaan saya adalah hobi yang dibayar.


Apa yang menjadi rahasia kerja kak Ratna sehingga mampu dipromosikan sebagai marketing Manager Dealoka? #IDStalk
Wah, hehehehe. Ga ada rahasia dan nihil tips sebetulnya. Yang saya yakini, sesuatu yang dikerjain dari hati sampainya akan ke hati. Ga perlu ribet sama posisi, cukup jaga kepercayaan yang dikasih, apapun bentuknya. Selebihnya, jangan lupa piknik :D


Apa saja persamaan dan perbedaan yang dirasakan setelah di promosikan sebagai marketing manager? #IDStalk
Sebetulnya ga terlalu berbeda. Paling kalau sekarang jadi punya lebih banyak ruang buat berkreatifitas lebih. Selebihnya, dulu dan sekarang sama-sama menyenangkan. Dulu belajarnya sendiri,sekarang udah banyak temennya :)


Terakhir, apa tips atau pesan khusus dari kak Ratna untuk anak muda yang ingin memulai karir di dunia marketing? #IDStalk
Jangan takut salah, jangan takut mencoba, dan jangan takut terlihat berbeda dari arus kebanyakan. END.


---

Itu tadi review hasil interaktif bareng Student Job.

Setelah sesi tanya dari si admin, ternyata lumayan banyak juga yang nanya-nanya. Saya mendadak artist wkwk. Followers nambah banyak euy. *skip

Anyway, I thank to Student Job for having me! Saya banyak belajar!


Cheersss!


----

Lampiran :
Kapanlagi sekali tweet bisa dapat impression 2700-an wkwk.


Previous PostOlder Posts Home