15 March 2015

Repost :

Saya kira tadinya ini cuma ada di cerita Sun Go Kong. Yang kalau Go Kong protes, bisa langsung nemuin raja, dan perdana menteri di kahyangan di atas awan. 

Saya kira tadinya ini cuma ada di buku dongeng hadiah Dancow. Ada keluarga petani yang berkebun di atas langit.

--

Berdiri di puncak Bukit Sikunir di pagi hari, menatap lamat matahari yang sepenggalah naik dari balik Gunung Sindoro. Awan putih bergumpal jauh di bawah tempat kami berdiri. Membentuk samudera. Bergumpal-gumpal, kesana kemari ditiup angin.


Mengalihkan pandangan, terpampar syahdu sebuah desa yang kami lewati tadi. Sembungan namanya. Dialah desa tertinggi di tanah Jawa. Dialah negeri di atas awan yang sesungguhnya. Negeri yang tumbuh ratusan penduduk baik hati, yang mau kami ganggui di waktu Subuh menumpang wudhu. Oh. Di atas awan mereka berkebun, di atas awan mereka mendirikan sekolah, di atas awan pula mereka menemui Tuhannya lewat sujud.


--

Waktu itu tanggal 5 Februari. Dini hari jam dua pagi, dari sebuah rumah di Magelang, kita udah duduk manis di mobil dan bersiap menuju Dieng. Berbekal Google Maps, dan nasi bungkus buatan ibu Ikhsan. Dieng letaknya di Wonosobo, sekitar dua jam dari posisi Magelang. Jadi kira-kiranya jam 4 pagi udah bisa nanjak. Tapi rencana tinggal harapan. Baru sampai gerbang Dieng jam 4 lebih, dan masih ada 10 kilometer lagi untuk sampai di trek nanjaknya. Ditambah hal yang paling ditakuti akhirnya kejadian. Hujan.

Perjalanan ini sepenuhnya patuh pada Google Maps, dan bekal cerita pengalaman orang-orang di Google. Kalau udah sampai masjid anu berhenti, kalau udah sampai plang ini bisa cari guide, kalau udah ketemu gerbang anu, batas mobil boleh jalan, dan seterusnya. Berhubung waktu Subuh, berhentilah kita di musholla. Uniknya, mushollanya tanpa tempat wudhu apalagi toilet. Menumpanglah kami di rumah warga.

Singkat cerita, sampailah kita di gerbang Sikunir. Begitu sampai di titik pendakian, beberapa dari kita langsung lari-larian berharap bisa mengejar sedikit golden sunrise. Tanpa pemanasan. Yang harusnya haram dilakuin sama orang manapun yang mau mendaki. Apalagi yang belum pernah sama sekali. Hasilnya bisa ditebak. 1/7 perjalanan sudah habis nafas. Kita bahkan kalah cepat sama matahari, yang sepertinya udah terbit. Dieng yang katanya dingin bisa capai suhu minus, ga berasa dingin lagi.

That moment, di tengah pendakian, ada adegan yang film banget. Salah satu dari kita ga sanggup melanjutkan perjalanan. Doi tersengal, sedikit lagi muntah. Kemudian katanya kurang lebih begini, “gue ga kuat lagi, ga kuat, serius ga kuat” .. “kalian aja yang lanjutin dakinya, gue gapapa ditinggal disini aja..”, mukanya merah, nafasnya ga beraturan. Gue sebenarnya agak panik, duh ini gak bakal kayak Arial di 5cm kan.. Arial di 5cm padahal dikenal paling olahragawan, paling atletis, paling sehat, tapi di tengah hampir gabisa lanjutin jalan. Nah ini sama. Yang ngomong atlet juga... Tapi kemudian dijawab ga kalah film sama seorang lainnya, “engga ka nins.. kita bakal daki sama-sama.. ga bakal ada yang ninggalin..”

Hahahaha. Drama banget kayak Pilpres :')

--

Kemudian sesaat setelah itu..
Kami berdiri di puncak Bukit Sikunir di pagi hari, menatap lamat matahari yang sepenggalah naik dari balik Gunung Sindoro. Awan putih bergumpal jauh di bawah tempat kami berdiri. Membentuk samudera. Bergumpal-gumpal, kesana kemari ditiup angin.

Walau sekilas di mataku, gumpalan awan itu perlahan membentuk wajahmu. Sahabat terbaik yang menghembus nafas terakhirnya di balik Gunung itu.
"Robby Rifal Hamdani. Ini tahun kedua kita tak berpuka puasa bersama".
Sejurus kemudian aku memahami. Kehidupan di atas awan itu benar ada, kawan.

-- Tamat.

Dari atas Sikunir, nampak desa di atas awan itu. Sembungan namanya.
Gue yang motret nih :'))))
Foto siluet pertama. Mendapati matahari yang ga lagi bisa dibilang golden sunrise -_-
Orang mana coba yang kepikiran bawa balon tiup ke gunung :))
Di balik gunung Sindoro :)
We're on the SKY!
Bahagia akhirnya bisa sampai disini tanpa guide :')
Itu yang pada duduk adalah dua aktor yang dimaksud di cerita di atas :p
Iya, di balik gunung itu... Semoga bahagia dan tenang disana yah, Fal :'D

Sarapan di tepi Danau Cebong. Danau ini persis di bawah Sikunir. Jadi setelah turun dari puncak, kita mampir kesini dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke objek Dieng berikutnya,

See? Negeri itu benar ada. Mereka berkebun di atas awan :)
Memandang telaga dari kejauhan :D
Konon, ini tempat foto ter-mainstream di Telaga Warna...
Menuju .. salah satu objek setelah Telaga Warna

Background belakang sebenarnya adalah hijaunya telaga
Akhir kata, terimakasih Sikunir, Telaga Warna, dan semua kenangan di Dieng. Semoga kita bisa ketemu lagi yaa. 

Sekian. Wassalamualaikum wr.wb.
Repost :

Bagi sebagian orang, mengenal Bali berarti bercengkerama dengan eksotika alam dan budayanya. Menjelajah pantai, atau sekedar menonton upacara ngaben yang terkenal itu. Ritual pembakaran mayat bagi umat Hindu ini memang selalu menarik perhatian wisatawan. Ada saja yang merekam setiap prosesinya. Kemudian hanya dengan sentuhan jari, video ini bisa dinikmati seisi bumi. Dalam hitungan sepersekian detik, rekaman itu berpilin, berputar, berubah menjadi data binari. Menderu menuju tower BTS, menuju satelit Palapa C-2, berputar dalam sistem pembagian wilayah yang rumit, bergabung dengan jutaan pesan, suara, streaming gambar, dan data lainnya dari berbagai sudut bumi. Kemudian di detik yang sama, rekaman itu dilontarkan kembali ke muka bumi. Voila! Jadilah dia santapan di berbagai sudut dunia.

Bali yang terkenal arif itu, perlahan pikuk. Tergerus keinginan banyak pemangku negara untuk terus mengeksplorasi sudut negeri. Ah, jaman ini, bukankah begitu sulit membedakan ekplorasi dan eksploitasi?

Desa Petulu, Ubud.
Mari lupakan sejenak perkara eksplorasi yang ambigu tadi. Karena nyatanya, di tengah ramai dan pikuknya Bali, tak banyak yang tahu tentang sebuah sudut di pulau ini. Sebuah desa, yang tak jauh dari keramaian kawasan wisata Ubud. 

Petulu, namanya. Desa ini menjadi rumah bagi  kawanan ribuan burung bangau, atau dalam nama lokalnya burung Kokokan.  

Kokokan merupakan satwa dalam ekosistem perairan, yang biasa ditemukan di danau, pantai, rawa, maupun hutan mangrove. Petulu adalah bagian kecil dari sebuah megaekosistem Pulau Bali, dimana ditempat ini dengan berbagai unsur yang ada di dalamnya menjadi ‘tempat pulang’ bagi burung migran yang daya jelajahnya cukup luas tersebut. Kokokan merupakan burung yang telah mengalami kelangkaan, beberapa spesies famili burung ini sudah termasuk ke dalam daftar satwa liar yang dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, tertuang dalam PP No.7 tahun 1999.  

Ada bulan-bulan dimana kawanan burung ini melakukan pengembaraan, namun akan kembali ke Desa Petulu pada bulan-bulan berbiaknya, membuatkan sarang, bertelur, dan membersarkan anaknya hingga sanggup terbang.  Desa Petulu ini merupakan kawasan yang cukup padat penduduk. Luas wilayah Desa Petulu adalah 384 Ha dengan Penduduk yang bermukim sebanyak 4.352 jiwa (Profil Pembangunan Desa Petulu Tahun 2003). 

Kearifan Masyarakat Desa Petulu
Pertanyaan yang pasti mengudara : apa gerangan yang membuat ribuan Kokokan menyemai hidup di kawasan padat penduduk ini? Ternyata jawabannya sederhana. Arif. 


Populasi di burung Kokokan di desa Petulu yang kini telah mencapai angka ribuan telah ada sejak tahun 1965. Menyisakan bau amis dari kotoran burung, masyarakat Desa Petulu tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang mengganggu. Bahkan ketika burung-burung Kokokan mulai masuk pekarangan rumah dan membuat sarang di atas pepohonan, masyarakat ikhlas merelakan sebagian tempat tinggalnya menjadi rumah bagi sang Bangau.  

Sebagai hasilnya populasi burung Kokokan ini terus meningkat, bahkan dalam hal keragaman penyusunnya. Kedatangan Kokokan di tahun 1965 yang pernah membuat geger ini, oleh para pemuka desa setelah dimohonkan petunjuk kepada Yang Maha Kuasa perlu dipelihara. Masyarakat sepakat untuk tidak mengganggu kehidupan Kokokan, bahkan dibuatkan bangunan suci tempat pemujaan dewa-dewi. Pemuka masyakat setempat bersama-sama masyarakat juga telah menghijaukan lahan pelaba pura dengan tanaman yang disukai satwa ini. Tak ayal, burung Kokokan telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan keseharian warga Petulu.

Eksotika Budaya
Sederhana memang. Di tengah majemuknya Bali dengan berbagai suntikan asing disana-sini, ada sekelompok masyarakat yang masih tegar dengan pendirian dan keyakinannya akan titah leluhur yang mereka yakini. Bukan lagi sebatas perkara agama yang sering dijadikan isu perpecahan, tapi kearifaan masyarakat Petulu adalah soal kesederhanaan dan keikhlasan. 

Jika di belahan Indonesia lain, masih ada kelompok yang terus sibuk bertikai dan menghardik antar golongan agama, maka masyarakat Petulu memang hanya melakukan hal sederhana ; menyayang makhluk Tuhan. Sebuah eksotika budaya, yang berdiri tegak diantara hantaman dan kerasnya pergumulan jaman. (rsh)


---

Ratna Sofia Harriyati
The 2nd Winner National Essay Competition.

14 March 2015

Menulis di blog selalu menjadi pucuk pengingat tentang masa-masa lampau. Tentang mimpi, tentang idealisme, tentang kesombongan di masa muda yang indah. Juga mencipta kontemplasi, esok lusa ingin jadi apa.

Saya kembali mengingat diri di 2-3 tahun sebelum ini. Orang yang –somehow- kaku dan keras untuk hal tertentu, idealis ala-ala anak muda, selebihnya labil.

Kembali berkontemplasi, sedikitnya sampai hari ini, saya masih mendapati diri yang sama untuk sebuah idealisme. Merdeka dari perbudakan korporasi.

.. bersambung

--

Anyway, thanks to Pak Kev dan Dealoka yang menempatkan saya di posisi beginian, posisi yang membuat saya merasa ga pernah kerja setiap harinya hahaha. I mean, tiap hari saya cuma melakukan apa yang saya suka, dan dibayar :P I am doing what I am passionate about. I create campaign. I do writing. I got free traveling. Last but not least, I do ‘makan-makan cantik’ with the kewl owners, somehow the director. If we talking about the most favorite, the last one is all mine!

Kamis, 12 Maret lalu, saya bareng food blogger Bandung melakukan happy routine yaitu mengunjungi restoran-restoran yang sudah saya tentukan sebelumnya untuk melakukan campaign ‘sharing cerita perut’. Dari tim mereka ada Teh Cony sang copy writer, Imam sang photographer, ada Pak Angga yang adalah co-founder ceritaperut dan pemilik berbagai restoran hits tanah air, ada sekretarisnya, dan terakhir ada driver. Kegiatannya buat saya cuma satu : datang dengan perut kosong, pulang dengan kenyang dan senang.

Ps. Semua foto di bawah ini adalah dokumentasi pribadi (thanks to mas Imam) dan menu yang kita nikmati.


Yo’Panino – Plaza Indonesia.
Menjadi pembuka kunjungan pertama. Setelah memberikan briefing untuk rombongan food blogger Bandung tentang apa yang jadi poin kerjasama, resmi dimulailah perjalanan menyenangkannya. Adalah Mr. Jitin Kapoor yang menjadi man of the day di kunjungan pertama ini. Beliau yang sebagai Managing Director Yo’Panino, dengan sangat humble dan menyenangkannya menjamu kami. Semua hidangan terbaik keluar. Daftar menu yang menggiurkan dipindahtangankan, ‘say whatever you want, I’ll make your day’. Mr Kapoor si pemilik senyuman hangat ini, doyan bercanda, tapi ya gitulah harus via bahasa bule. Jadi loading dulu, baru ketawa :))


Memotret
Daftar menu yang bisa kita pilih di bagian manapun ;)
Buat para Sandwich lover, ini wajib dicoba!
Ini atasnya doang sayuran ;)
Kentang goreng yang menggoda
.....
Sandwich + Fries + Lemon Tea, paket Dealoka :P
Lupa namanya apa, yang jelas ini gurih-gurih empuk
Sedikit dari yang terlihat. Let's party
Disini juga sedia aneka softdrink

Kiri ke kanan : Mba Cony, saya, Mila, Mr. Kapoor, Pak Angga, sekretaris




The Baileys and Chloe
Perjalanan dari Plaza Indonesia ke daerah Tanjung Duren ini disponsori oleh macet Jakarta yang gak karuan. Dijadwalkan ketemu pukul 14.00, ngaret hampir 2 jam. Berkali-kali saya mengirimkan sms permohonan maaf ke sang owner :') Adalah Chef Ivan Anggriawan, yang merupakan founder, CEO, sekaligus chef di kafe nan cozy ini. Pertama kali mengenal beliau sebulan lalu, Pak Ivan baaaaanyak sekali bercerita dan membagi ilmu. Ceritanya kita udah cs-an :p Anyway sesampainya di Baileys, kami memilih lantai dua untuk ngobrol-ngobrol santai dan review. Lagi-lagi daftar menunya dipindahtangankan. Kami menunjuk ini itu, Pak Ivan dengan sabar dan antusias tetap menjelaskan filosofi masing-masing menu  yang kami tunjuk. Sambil menunggu para chef menyiapkan semua menu pilihan, obrolan terus mengalir. Saya tak berhenti kagum. Meresapi satu-satu ilmu yang didapat.

Beverage andalan
Gurih

Porsi guede. Telor ceplok for scale.
Green Fried Rice
Baileys Favorite. Ini porsinya super besar banget.
Minuman terunik sejagat. Ini dibuat dari daging sapi yang diblended, dan rasanya luar biasa nikmat.
Sedang bercerita
Cute Pancake
Inilah minuman yang kami pilih. Gelasnya besar. Segarnya subhanallah.
Dari kiri ke kanan : Mba Cony, saya, Pak Ivan, Milla




Brownfox Waffle
Adalah cafe terakhir yang menjadi ‘korban’ kemacetan jam pulang kerja yang bikin mobil kami gak bergerak. Yang tadinya saya jadwalkan jam 4, terundur sampai jam setengah 8 malam. Brownfox Waffle menjadi penutup terakhir yang membuat perut kami ga sanggup lagi untuk menerima asupan lain sampai keesokan hari.  Cafe yang satu ini terbilang mini, tapi demi massa, memasukinya seperti masuk ke rumah. Begitu homey dan menyamankan. Saya pribadi kenal Pak Guntur, sang owner, sekitar dua bulan lalu. Beliau anak muda yang begitu passionate sama apa yang dikerjakannya. Cafe Brownfox Waffle sungguh sanggup bawa suasana hangat. Sama Pak Guntur, kami diajak melihat ruang kerjanya, menunjukkan ruang kreatifitas, dan lain-lain. Meski namanya Brownfox Waffle, tapi kafe ini ga cuma jual waffle. Aneka jenis coffee cantik, beverage, sampai makanan berat juga tersedia. Rasanya unik-unik! Waffle-nya gedenya khanmain. 



Warm-kitchen

But first, Waffle ;)
Iyes, ini Green Tea.
Sandwich Waffle. :')
Ini Chicken Waffle. Jadi di atasnya tersaji ayam yang entah dipanggang atau apa, yang jelas ini gurih banget!
Walaupun ini katanya yang paling biasa, tapi buat saya -pecinta coklat garis keras- ini adalah terfavorit dari semuanya!
Greentea Waffle
Caramel Waffle
Kopi cantik :P

Dari semua kentang goreng yang pernah saya coba, Brownfox Waffle JUARA-nya! Seriously, rasanya begitu selesai mengunyah bahkan masih tersisa di lidah.

Lupa namanya apa :P
Perhatikanlah betapa ini menyenangkan :')
Dari kiri ke kanan : Mba Cony, Milla, saya, Mba Putri (chef), Pak Guntur, Sekretaris, Pak Angga
--



Sesaat terkumpul di benak. Saya menatap mata-mata yang penuh semangat setiap harinya. Orang-orang yang berbahagia atas kemerdekaannya.

Sesekali kami icip ini itu. Sesekali melempar cerita. Sisanya tumbuh gelak tawa bersama kehangatan yang terbangun.

Bukankah bahagia itu sederhana?


Sabtu Malam, hujan.
Pukul 23.09.
Dari Lantai 1, Serpong.

Total Pageviews

Blog Archive

Ratna Sofia. Powered by Blogger.

Google +

Blog Followers