Posted by : Ratna Sofia 11 July 2013


Tebal : 349 halaman.
Penerbit : Kompas Gramedia.

Buku ini ditulis langsung oleh sang tokoh utama, Dahlan Iskan. Awalnya saya kira ini seperti cerita beruntun atau setidaknya menyerupai novel. Tapi ternyata saya salah. Tidak ada garis penghubung antara satu bab dengan bab lainnya. Awalnya saya kira akan membosankan membaca buku setebal 349 halaman ini. Tapi lagi-lagi saya salah. Membaca buku ini seperti menjadi bagian dari PLN, membaca buku ini seperti ikut hadir di setiap pulau yang dijajaki. Membaca buku ini meninggalkan campur baur perasaan.

Dua Tangis dan Ribuan Tawa sendiri merupakan judul salah satu dari 32 Ceo Notes di buku ini. Ceo Notes merupakan catatan seorang Dahlan Iskan yang ditulis langsung untuk seluruh karyawan PLN di seluruh penjuru Indonesia. Berisi cerita-cerita perjalanannnya ke berbagai pelosok Indonesia untuk satu urusan : listrik.

Gaya penyampaiannya yang mengalir dan asik, tidak terlalu mengherankan, mengingat Beliau adalah seorang wartawan dan pemilik koran nomor satu di Indonesia.

Dalam salah satu babnya, beliau berkisah, bahwa dalam 6 bulan menjabat sebagai Dirut PLN, belum pernah sekalipun ia menyentuh meja dan duduk tenang di kursinya. Ketika surat-surat masuk ke mejanya, untuk dibuat disposisi, lebih sering beliau hanya membubuhkan paraf.

“Apa yang saya harus tulis disitu? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau beberapa kata yang sifatnya hanya basa-basi – sekedar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?”

“Akhirnya saya putuskan tidak menulis apa-apa. Mengapa saya harus memberi instruksi seolah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?”

Warga PLN adalah lulusan ranking 1-10 di setiap universitasnya. Mereka lebih dari mampu.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide..

“Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek.
Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi.
Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan;
Orang yang terlalu sering diberi pidato kelak biasanya akan minta petunjuk.”

Di bab-bab lainnya, Dahlan menceritakan dengan begitu apik dan penuh pesan moral, perjalanannya ke Medan yang penuh gejolak, ke pulau-pulau di Indonesia Timur, Maluku, Tidore, Seram, dan banyak lainnya. Tentang pantai Indonesia Timur yang tidak akan kalah bersaing dengan pantai sepanjang Italia, andai suatu saat mereka menata wilayahnya.

Atau tentang “Tidak Ada Seribu Jalan ke Wamena”. Tanah Papua yang tidak dapat ditempuh apapun kecuali dengan pesawat udara. Bayangkan saja, untuk menyalurkan bahan bakar kesana saja, harganya jauh lebih tinggi biaya angkut. Karena alat angkutnya cuma satu : pesawat.

Bagian mengharukan mengemuka di dalam bab “PLN Tak Mau Lagi Jadi Ban Belakang”. Ketika Dahlan didaulat sebagai satu dari enam CEO terbaik Indonesia, saat itu bersama CEO BNI, Toyota Astra, Kopi Kapal Api, dan Nexian. Tampil hanya dengan sepatu kets, dan baju santainya, tidak pernah terpikir oleh Dahlan ia akan terpilih. Namun di detik-detik menegangkan, Chairul Tanjung justru memanggil namanya. DAHLAN sebagai Marketer of The Year! Karyawan PLN yang hadir disitu melonjak. Seorang GM menitikkan air matanya. Padahal, biasanya di acara sebesar ini, PLN kebagian dimarahi karena urusan listrik yang tidak boleh matilah, dan sebagainya..

Akhir kata, buku ini sangat recommended untuk dibaca.
Berisi banyak sekali pengetahuan. Banyak pemahaman. Banyak pelajaran.
Saya berkali-kali dibuat deg-degan, terharu, gemas, dan perasaan campur lainnya.

Point dari 1-5, saya vote 4,7.

Leave a Reply

Please leave your comment here :

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Anak Muda -Metrominimalist- Designed by Johanes Djogan -